Saat Istora Jadi Laboratorium Masa Depan
Pasangan ganda putra, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.(MI/Khoerun Nadif )

KALA lampu-lampu arena mulai dipadamkan, dan para penonton meninggalkan Istora Senayan, Polytron Indonesia Open 2026 menyisakan cerita yang lebih besar sekadar perebutan gelar bulu tangkis. Turnamaen BWF Super 1000 itu menjadi ruang perjumpaan antara inovasi dan evaluasi, antara kebanggaan sebagai tuan rumah dan tantangan besar untuk melahirkan generasi baru yang mampu menjaga tradisi kejayaan bulu tangkir Tanah Air.

Sinergi antara sejumlah dalam turnamen, menunjukkan bahwa ekosistem kompetisi kelas dunia dapat dibangun di Indonesia. Maka dari itu, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) tanpa ragu memberikan apresiasi pada penyelenggaraan tahun ini yang disebut telah melampaui ekspektasi. Pelbagai pembaruan fasilitas dan pemanfaatan teknologi telah menjadi bukti kematangan kolaborasi industri dalam mendukung prestasi olahraga.

Sinergi Industri, Acuan Baru Dunia 

“Selamat yang sebesar-besarnya kepada panitia penyelenggara dan PBSI karena telah menggelar turnamen yang luar biasa tahun ini. Polytron Indonesia Open, yang merupakan bagian dari HSBC BWF World Tour Super 1000, bahkan melampaui ekspektasi kami,” kata Direktur Event BWF, Selvaamersh Supramaniam, kepada pewarta di Istora Senayan, Jakarta pada Minggu (7/6). 

Apresiasi tersebut ditujukan, bukan tanpa alasan. Salah satu inovasi yang mendapat perhatian ialah teknologi Light Emitting Diode (LED) yang secara kreatif menjadi gambaran awal siklus baru turnamen bulu tangkis.

“Penggunaan LED serta kreativitas dalam pemanfaatannya sangat baik. Bagi BWF, kami belajar banyak dari uji coba yang telah dilakukan ini sehingga kami bisa mempersiapkan tuan rumah lainnya dan juga mempersiapkan diri kami sendiri,” ujar Selvaamersh.

Tak hanya soal arena, fasilitas penunjang juga mendapat pujian. Mulai dari player lounge yang lebih nyaman, hingga layanan transportasi atlet yang dinilai berstandar dunia. 

“Banyak pemain yang sangat senang. Player lounge selalu ramai. Biasanya area seperti itu cukup sepi karena para pemain lebih memilih kembali ke hotel untuk beristirahat. Namun di sini, bahkan saat mereka sedang beristirahat, mereka kembali ke player lounge,” ungkap Selvaamersh. 

Ia menambahkan, “Layanan kendaraan sesuai permintaan untuk mengantar pemain dari hotel ke arena dan sebaliknya juga benar-benar kelas dunia. Itu sangat luar biasa.” 

Bagi BWF, kesuksesan itu sejalan dengan tema ‘Pride of the Nation’ yang diusung. Kebanggan itu, menurut Selvaamersh, telah tercermin dari antusiasme publik Istora yang tak padam. 

“‘Pride of the Nation‘ bukan hanya tentang Indonesia Open. Menurut saya, kebanggaan bangsa yang sesungguhnya selama ini adalah para penggemar bulu tangkis Indonesia. Dan minggu ini kita melihat para penggemar datang, menikmati suasana, dan menunjukkan kecintaan mereka,” tegasnya. 

Pembaruan fasilitas juga dirasakan oleh pasangan ganda puta Indonesia Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani. Menurut Reza, konsep yang memungkinkan penonton berinteraksi lebih dekat dengan atlet menjadi nilai tambah bagi pencinta bulu tangkis.

“Menurut saya juga bagus ya karena juga buat badminton lovers di Indonesia kan mungkin yang salah satu yang diinginkan juga itu dekat dengan atlet,” kata Reza pascapertandingan pada Kamis (4/6). 

Selain itu, Reza juga menyoroti perubahan pada player lounge yang menurutnya jauh lebih hidup dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang itu atlet-atlet tuh banyak banget yang ngumpul di player lounge sampai susah untuk duduk. Jadi mungkin itu sih perbedaannya, mungkin lebih improve dari tahun lalu.” 

Senada dengan Reza, Sabar memberikan apresiasi terhadap layanan konsumsi tersedia bagi para atlet di Player Lounge. 

”Banyak saya cobain makanannya, enak-enak juga. Ada executive chef-nya, luar biasa,” kata Sabar.

Di sisi lain, Ketua Panitia Pelaksana Polytron Indonesia Open 2026, Achmad Budiarto, menjelaskan bahwa konsep tahun ini memang dirancang untuk mengembalikan euforia bulu tangkis Indonesia melalui pendekatan yang ramah keluarga. Berbagai kemudahan disiapkan, mulai dari akses tiket, akses masuk arena, hingga area hiburan dan bazar yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga. 

“Kita anggap ini sebagai family gathering dan juga sekaligus pesta rakyat bangsa Indonesia,” ujar Achmad. 

Ia menambahkan bahwa slogan ‘Pride of the Nation‘ dirancang untuk menghadirkan kebanggaan bagi masyarakat Indonesia, BWF, dan PBSI. 

“Yang pertama adalah kebanggaan buat masyarakat Indonesia, kemudian juga kebanggaan buat BWF, dan pastinya juga kebanggaan buat PBSI,” ujar Achmad.

Asa Baru di Tengah Evaluasi Total 

Di balik keberhasilan penyelenggaraan, sisi prestasi mewujud kenyataan lain. Dua wakil Indonesia di partai final harus puas menjadi yang kedua. Tunggal putra, Jonatan Christie gagal meraih gelar setelah kalah dari wakil Kanada, Victor Lai, dengan skor 19-21 dan 8-21. Sementara pasangan ganda putra, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin takluk dari ganda Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, dengan skor 21-13, 18-21, dan 10-21. Alhasil, kenyataan itu pun kini memperpanjang puasa gelar Indonesia di Indonesia Open sejak 2021. 

Pengamat bulu tangkis, Broto Happy Wondomisnowo, menilai kondisi itu menunjukkan semakin ketatnya persaingan global. 

“Prestasi kita memang belakangan ini mungkin sudah kalah dibanding negara lain ya,” kata Broto. 

Meski demikian, Broto tetap melihat sisi positif dari pencapaian pasangan muda Raymond/Joaquin yang berhasil menembus final turnamen Super 1000. 

“Memang kalah, tapi saya kira ke depan harapannya masih terbuka lebar bagi pasangan muda Indonesia ini,” tutur Broto.

Pandangan serupa disampaikan pengamat olahraga Ainur Rohman. Menurutnya, di tengah kekecewaan karena gagal meraih gelar, munculnya pemain muda di partai puncak menjadi sinyal bahwa proses regenerasi sedang berjalan. 

“Memang secara hasil mengecewakan. Tapi kan yang harus kita tahu bahwa dua wakil yang ada di final itu, satu non-Pelatnas, satunya lagi pemain muda,” sebut Ainur. 

Ainur menilai pencapaian Raymond/Joaquin sangat mengejutkan mengingat mereka mampu menyingkirkan pasangan-pasangan elite dunia dalam perjalanan menuju final. Namun Ia mengingatkan bahwa bakat besar membutuhkan sistem pembinaan yang tepat agar dapat berkembang maksimal. 

“Teknologi dan sains olahraga sangat krusial. Tetapi bakat itu kan adalah hal yang sangat mengerikan ya kalau misalnya tidak bisa dipupuk dengan baik. Bakat akan menjadi hilang sia-sia kalau misalnya sistem pelatihannya itu atau pembinaan di dalam itu tidak berlangsung secara baik,” beber Ainur. 

Raymond dan Joaquin sendiri menilai kekalahan di final menjadi pelajaran penting tentang pentingnya menjaga konsentrasi di momen krusial.

“Mungkin mereka melihat kita kayak sempat bingung gitu ya, mereka otomatis juga notice gitu jadinya mereka mengambil momentum,” ujar Joaquin. 

Sementara, Raymond menilai pengalaman pasangan Malaysia menjadi faktor yang membedakan hasil pertandingan. 

“Mereka juga pemain yang berpengalaman banyak ya di turnamen-turnamen besar. Kita harus lebih waspada lagi, apalagi di poin-poin yang mungkin konsentrasinya lebih ditambah lagi.” 

Jonatan Christie mengakui tekanan mental menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penampilannya di final. 

“Maaf, kembali saya belum bisa memberikan hasil yang paling maksimal, yaitu medali emas. Tapi ya, ini yang bisa saya lakukan, ini yang bisa saya perbuat.” 

Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk beristirahat sejenak dari rutinitas bulu tangkis demi memulihkan kondisi mental setelah menjalani rangkaian turnamen yang padat.

“Fokusnya saat ini adalah untuk menenangkan pikiran dulu. Menjauh sebentar dari bulu tangkis, untuk merasakan lebih tenang.” 

Istora tahun ini bukan hanya menjadi panggung perebutan gelar, melainkan juga laboratorium besar bagi inovasi industri olahraga, evaluasi prestasi, dan pencarian harapan baru untuk masa depan bulu tangkis Indonesia. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *