
MEMASUKI periode tahun ajaran baru, banyak orangtua mulai merasa tertekan dengan tumpukan tagihan kebutuhan pendidikan anak. Namun, tekanan finansial ini sering kali bukan disebabkan oleh mahalnya biaya sekolah, melainkan akibat pola perencanaan yang keliru.
Perencana keuangan sekaligus pendiri DNA Finance Indonesia, Aliyah Natasya, mengungkapkan bahwa fenomena ini terus berulang setiap tahun. Berdasarkan pengalamannya menangani ratusan sesi konsultasi, Aliyah mengidentifikasi tiga kesalahan utama yang kerap dilakukan orang tua dalam mengelola keuangan pendidikan.
1. Menguras Dana Darurat dan Terjebak Utang
Kesalahan pertama yang paling mengkhawatirkan adalah penggunaan dana darurat atau pengambilan utang konsumtif berbunga tinggi untuk membayar biaya sekolah. Aliyah menegaskan bahwa dana darurat memiliki fungsi spesifik sebagai “benteng terakhir” keluarga.
“Dana darurat bukan bank. Ia adalah benteng terakhir keluarga untuk situasi yang benar-benar tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau sakit,” ujar Aliyah.
Menurutnya, biaya pendidikan adalah pengeluaran yang dapat diperkirakan sejak jauh hari, sehingga tidak seharusnya mengambil porsi dana darurat.
2. Perencanaan Anggaran yang Terlalu Sempit
Banyak orangtua hanya fokus pada biaya utama seperti uang pangkal dan SPP bulanan. Padahal, terdapat “biaya tersembunyi” yang sering kali luput dari perhitungan sehingga mengacaukan arus kas keluarga saat tahun ajaran dimulai.
| Kategori | Contoh Kebutuhan |
|---|---|
| Operasional Harian | Transportasi (antar-jemput), kuota internet |
| Fasilitas Belajar | Laptop, tablet, buku pelajaran, seragam |
| Kegiatan & Pengembangan | Les tambahan, study tour, ekstrakurikuler |
3. Memilih Sekolah Berdasarkan Gengsi
Kesalahan ketiga berkaitan dengan aspek psikologis dan sosial, yaitu memilih sekolah berdasarkan aspirasi atau gengsi semata tanpa mengukur kapasitas finansial jangka panjang.
Aliyah melihat banyak orangtua memaksakan sekolah yang statusnya “masih bisa diusahakan” secara finansial, padahal sangat berisiko jika terjadi perubahan pendapatan di masa depan.
Ia menyarankan agar orangtua melakukan peninjauan kapasitas keuangan minimal untuk tiga tahun ke depan sebelum memutuskan sekolah anak. Hal ini penting karena biaya pendidikan bersifat berkelanjutan, bukan hanya pengeluaran satu kali di tahun pertama.
“Jangan beli tiket yang tidak bisa kamu bayar sampai stasiun tujuan. Sekali anak masuk sekolah tersebut, akan sangat sulit untuk mundur di tengah jalan,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
