
PRESIDEN Libanon Joseph Aoun, Jumat (5/6), mengkritik Iran karena menggunakan Libanon sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem, seraya menyebut rakyat Libanon lelah dengan perang.
Aoun menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan kepala penyiar internasional CNN, Christiane Amanpour, yang dirilis oleh Kepresidenan Libanon.
Pada Kamis (4/6), Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa syarat utama Iran untuk menerima gencatan senjata 8 April dengan AS dan penjajah Israel adalah gencatan senjata secara menyeluruh di semua front, termasuk Libanon.
“Ini bukan negara Anda. Ini negara kami,” kata Aoun dalam wawancara tersebut, seraya menyatakan bahwa tidak dapat diterima bagi kekuatan regional untuk memanfaatkan Libanon guna memajukan kepentingan mereka sendiri sementara warga sipil Libanon terus menanggung konsekuensi konflik dalam bentuk korban jiwa, kondisi pengungsian, dan kehancuran.
Presiden Libanon menegaskan bahwa negosiasi tetap menjadi satu-satunya cara yang layak untuk mengakhiri konflik antara Libanon dan penjajah Israel.
Dia menyatakan bahwa negara dan pemerintah Libanon harus menangani isu Hizbullah secara domestik dengan mengatasi akar penyebab di balik kehadiran bersenjata kelompok tersebut, termasuk mendorong penarikan pasukan penjajah Israel dari wilayah Libanon serta berakhirnya konflik. Aoun menyebutkan bahwa sebagian besar warga Libanon dari semua kelompok dan wilayah sudah lelah dengan konflik selama puluhan tahun.
“Mereka adalah rakyat Libanon, bukan rakyat Naim Qassem,” kata Aoun, menanggapi pernyataan Qassem yang menentang kesepakatan tersebut dan mengancam akan menjatuhkan pemerintah melalui aksi protes di jalanan.
Masih pada hari yang sama, sedikitnya 13 orang tewas dan 15 lainnya terluka dalam serangkaian serangan udara serta serangan drone penjajah Israel di berbagai wilayah Libanon selatan.
Menurut Kantor Berita Nasional (National News Agency/NNA) Libanon, serangan tersebut menghantam sedikitnya delapan kota, termasuk Doueir, Habboush, dan Burj Qalaouiyah.
Di Distrik Tyre, sebuah serangan udara di dekat Rumah Sakit Jabal Amel menghancurkan bangunan yang menampung sebuah bank dan mengakibatkan 12 warga sipil terluka.
Sementara itu, Hizbullah menyatakan bahwa para pejuangnya menargetkan posisi pasukan dan kendaraan militer penjajah Israel di sekitar Kastel Shaqif (Beaufort) serta sejumlah wilayah lainnya.
Pada Jumat malam, Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat Libanon dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa serangan udara penjajah Israel di Kota Zebdine menewaskan lima orang, termasuk seorang perempuan dan seorang tenaga medis, serta melukai dua orang lainnya.
Pusat Operasi Darurat Kementerian Kesehatan Masyarakat Libanon memaparkan, jumlah korban akibat serangan penjajah Israel sejak 2 Maret secara kumulatif telah mencapai 3.558 korban tewas dan 10.870 korban terluka.
Pasukan Pertahanan penjajah Israel (Israel Defense Forces/IDF) dalam sebuah pernyataan mengatakan telah menewaskan dua militan Hizbullah di Libanon selatan pada Jumat.
Menurut pihak militer, kedua anggota Hizbullah tersebut terlibat dalam bentrokan sebelumnya dengan pasukan Sayeret Givati, unit pengintaian elit dan operasi khusus IDF, yang mengakibatkan seorang perwira penjajah Israel mengalami luka serius dan komandan Sayeret Givati menderita luka ringan.
Pernyataan itu menambahkan bahwa IDF kemudian melakukan penyisiran di wilayah tersebut, menemukan dan menewaskan dua militan yang terlibat dalam insiden itu, serta secara bersamaan menggempur sejumlah target infrastruktur Hizbullah lainnya di area tersebut. (Ant/P-3)
