
ILMUWAN berhasil mengungkap rahasia mengejutkan dari burung kasuari, yang selama ini dikenal sebagai burung paling berbahaya di dunia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jambul besar di atas kepala mereka, atau yang disebut casque (ketopong), ternyata dapat menyala terang benderang di bawah sinar ultraviolet (UV).
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports ini menjawab perdebatan para ahli biologi selama dua abad mengenai fungsi jambul tersebut. Jambul yang biasanya terlihat kusam seperti kulit kayu berwarna abu-abu atau hitam, seketika memancarkan warna biru-hijau elektrik saat terpapar cahaya UV.
Sinyal Visual Rahasia
Penelitian yang dipimpin oleh Todd L. Green, pakar anatomi dari New York Institute of Technology College of Osteopathic Medicine (NYITCOM), menguji 95 spesimen museum dan sembilan kasuari hidup. Hasilnya, fenomena biofluoresensi ini hanya ditemukan pada kasuari, sementara kerabat dekatnya seperti burung unta dan emu tidak menunjukkan reaksi serupa.
Menariknya, setiap spesies kasuari memiliki pola cahaya yang berbeda:
- Kasuari Gelambir-Ganda & Tunggal: Menyala terang di hampir seluruh permukaan jambul.
- Kasuari Kerdil: Hampir tidak memancarkan cahaya.
Perbedaan pola ini diduga kuat berfungsi sebagai sinyal visual rahasia bagi sesama kasuari untuk saling mengenali spesies di tengah rimbunnya hutan lebat yang gelap, di mana penglihatan manusia atau kamera biasa terbatas.
Implikasi bagi Penelitian Dinosaurus
Selain sebagai alat komunikasi sosial, penemuan ini memberikan metode baru bagi peneliti lapangan untuk mengidentifikasi kasuari liar dari jarak aman menggunakan lampu UV genggam. Lebih jauh lagi, temuan ini memberikan perspektif baru bagi para paleontolog dalam mempelajari fosil dinosaurus.
“Jika kita dapat memahami untuk apa hewan modern menggunakan hiasan kepala aneh ini, kita dapat membawanya kembali ke catatan fosil untuk lebih memahami dinosaurus yang telah punah,” ungkap Todd Green dalam laporan riset tersebut.
Kasuari sering dijadikan model untuk mempelajari dinosaurus berjambul karena kemiripan fisiknya. Dengan adanya karakteristik biofluoresensi ini, ilmuwan kini memiliki petunjuk baru mengenai kemungkinan fungsi hiasan kepala pada hewan-hewan purba jutaan tahun lalu. (Z-10)
