
MENTERI Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi tiga krisis lingkungan sekaligus atau triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Ketiga krisis tersebut saling berkaitan dan mengancam stabilitas ekologi, ekonomi, serta sosial.
Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Sabtu (6/6), Jumhur menegaskan bahwa isu lingkungan hidup menjadi persoalan penting yang menentukan masa depan generasi mendatang.
“Ketiga krisis ini saling berkaitan dan mengancam stabilitas ekologi, ekonomi, dan sosial. Isu lingkungan hidup menjadi isu yang sangat penting bagi kelangsungan generasi mendatang,” kata Jumhur.
Ia menegaskan Indonesia tetap berkomitmen menjalankan Paris Agreement untuk menjaga kenaikan suhu bumi sedekat mungkin pada batas 1,5 derajat Celsius. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dengan target penurunan emisi sebesar 31,89% melalui upaya sendiri dan 43,2% dengan dukungan internasional.
Menurut Jumhur, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan membuatnya sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Lebih dari 60% penduduk tinggal di wilayah pesisir yang menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, dan gangguan ketahanan pangan.
Sementara lebih dari 90% bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
Di tengah tantangan tersebut, persoalan sampah dinilai menjadi salah satu faktor yang turut memperburuk perubahan iklim.
Jumhur mengungkapkan Indonesia menghasilkan sekitar 51 juta ton sampah setiap tahun.
Namun, sekitar 74% di antaranya masih belum dikelola secara optimal dan sebagian besar berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) yang masih menerapkan sistem open dumping.
“Praktik ini tidak hanya menimbulkan masalah kebersihan, tetapi juga pencemaran lingkungan, gas metana, dan ancaman terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan keberlanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan emisi gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah memiliki dampak pemanasan global lebih dari 30 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida.
Menurutnya, kondisi TPA yang mengalami kelebihan kapasitas hampir di seluruh kabupaten dan kota merupakan akibat dari pola pengelolaan sampah lama yang masih mengandalkan pendekatan kumpul, angkut, dan buang.
“Sampah tidak terpilah, pengolahan lahan urug terbuka, gas metana tidak ditangkap dan tidak dimanfaatkan. Kondisi ini menyebabkan darurat sampah,” tegasnya.
Karena itu, pemerintah mendorong perubahan paradigma pengelolaan sampah dari pendekatan hilir menjadi pengelolaan yang menyeluruh dari sumbernya.
Jumhur mengajak masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga melalui Gerakan Indonesia Asri.
Selain persoalan sampah, ia juga menyoroti berbagai bentuk kerusakan lingkungan lain seperti pencemaran udara akibat emisi kendaraan dan industri, pencemaran sungai, danau, wilayah pesisir dan laut, serta kerusakan lahan akibat alih fungsi kawasan, deforestasi, dan degradasi tanah.
“Dampak dari pencemaran dan kerusakan ini tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga ekonomi dan sosial. Kondisi bumi kita tidak sedang baik-baik saja,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Jumhur mengajak masyarakat melakukan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang dan perilaku terhadap lingkungan hidup.
“Menjaga lingkungan bukan pilihan, tetapi kewajiban moral dan sosial bagi generasi sekarang maupun yang akan datang,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah dari sumbernya, penguatan budaya hidup bersih, pengembangan ekonomi sirkular melalui bank sampah, penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), serta penanaman dua miliar pohon untuk memperkuat ketahanan iklim dan memulihkan ekosistem.
Jumhur menegaskan keberhasilan upaya penyelamatan lingkungan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.
“Gerakan lingkungan harus menjadi gerakan rakyat, gerakan nasional. Semua harus terlibat. Dengan itu Indonesia dapat menjadi teladan gerakan lingkungan di dunia,” pungkasnya. (H-2)
