
INDUSTRI kreatif Indonesia kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Film animasi terbaru adaptasi dari Intellectual Property (IP) populer, Garuda di Dadaku, berhasil menembus kompetisi bergengsi di Shanghai International Film Festival yang akan berlangsung bulan ini.
Produser film Shanty Harmayn menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan bukti nyata bahwa kualitas animator lokal asli Indonesia telah memiliki daya saing global. Menurutnya, keterlibatan film ini dalam festival internasional tersebut menjadi milestone atau tonggak sejarah penting bagi industri animasi tanah air.
“Talenta muda ini membuktikan bahwa kemampuan animasi Indonesia tumbuh lebih baik. Ini adalah milestone yang sangat penting, karena untuk pertama kalinya layar lebar animasi kita turut berkompetisi di sana,” ujar Shanty seusai acara screening film Garuda di Dadaku di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Kolaborasi Kolosal 500 Animator
Proses produksi film ini tergolong masif dan ambisius. Digarap selama tiga tahun, proyek ini melibatkan sedikitnya 500 animator yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, mulai dari Batam, Yogyakarta, Malang, Bali, Bogor, hingga Jakarta. Sebanyak 17 studio animasi, termasuk Imaji Studio, Manimonki, Leomotions, hingga Brown Bag Films Bali, bersinergi di bawah bendera BASE Entertainment dan Kawi Animation.
Kehadiran format animasi ini bertujuan untuk menyegarkan kembali memori masyarakat terhadap IP “Garuda di Dadaku” yang telah melegenda sejak versi live action pertamanya pada 2009. Shanty menjelaskan bahwa transformasi ke bentuk animasi adalah upaya memberikan referensi tontonan baru yang berkualitas bagi anak-anak Indonesia.
Detail Produksi Film Animasi “Garuda di Dadaku”
| Sutradara | Ronny Gani |
| Rumah Produksi | BASE Entertainment & Kawi Animation |
| Durasi Produksi | 3 Tahun |
| Tenaga Kreatif | 500 Animator dari 17 Studio |
| Pengisi Suara | Keanu Azka, Quinn Salman, Ibnu Jamil, Oki Rengga |
| Target Rilis | Libur Sekolah & Momen Piala Dunia 2026 |
Sinopsis Singkat
Film yang disutradarai Ronny Gani ini tetap mengusung semangat juang yang menjadi ciri khas waralaba Garuda di Dadaku. Cerita berfokus pada tokoh bernama Putra, seorang anak yang memiliki mimpi besar menjadi pesepak bola ternama di Indonesia.
Namun, perjalanan Putra tidaklah mudah. Ia harus berjuang melawan keterbatasan fisiknya karena mengidap penyakit asma yang sering kali menyulitkannya saat berlatih di lapangan. Kegigihan Putra dalam menaklukkan rasa sakit demi meraih gelar juara menjadi inti emosional yang diharapkan dapat menginspirasi penonton muda di tanah air.
Rilisnya film ini dirasa sangat tepat momentumnya, karena bertepatan dengan masa libur sekolah serta euforia perayaan Piala Dunia 2026, menjadikannya pilihan tontonan keluarga yang relevan dan edukatif. (Ant/Z-1)
