
PENGAMAT Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mengingatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta agar tidak hanya fokus pada penanganan jangka pendek terkait jalan ambles di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Yayat menegaskan, peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk melakukan audit total terhadap kondisi geologi dan sistem drainase tua di seluruh wilayah ibu kota.
Menurut Yayat, penanganan secara parsial di satu titik tidak akan menyelesaikan akar masalah, mengingat struktur tanah di Jakarta secara umum bersifat labil dan terus mengalami penurunan.
“Mengetahui kondisi yang terjadi pada jalan Lenteng Agung ini tidak boleh dipetakan pada lokasi itu saja. Harus ada pemetaan tentang kondisi tanah yang ada di sekitar kawasan tersebut, apakah kemungkinan ada gerakan tanah, atau potensi terjadinya amblas tidak hanya pada jalan Lenteng Agung tapi juga bisa masuk ke sekitar jaringan rel kereta api,” ujar Yayat ketika dihubungi, Kamis (4/6/2026).
Yayat mengimbau Pemprov DKI meningkatkan kehati-hatian karena fenomena amblasnya jalan akibat gorong-gorong tua bawah tanah juga kerap melanda kota-kota besar lain, seperti Bandung. Sebagai langkah konkret pencegahan, ia mendesak keterlibatan lintas dinas untuk mendeteksi ancaman di bawah aspal jalan arteri Jakarta.
“Mudah-mudahan tidak ada retakan atau kondisi yang lebih mengkhawatirkan di sepanjang jalan-jalan tersebut,” tuturnya.
Yayat mengatakan pengawasan ketat terhadap kebocoran saluran air bawah tanah juga krusial dilakukan oleh dinas terkait. Kebocoran drainase yang dibiarkan terus-menerus akan memicu rembesan air tinggi yang mengikis kekuatan struktur tanah dari dalam.
“Struktur tanah yang melemah akibat rembesan air itu kemudian dihantam lagi oleh tekanan beban tonase ribuan kendaraan dari yang ringan sampai yang berat setiap harinya. Ini yang harus dicegah agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan,” jelas Yayat.
Lebih lanjut, Yayat meminta masyarakat ikut proaktif melaporkan kepada pemerintah jika melihat adanya gejala awal penurunan tanah atau keretakan jalan di lingkungan sekitar mereka. Kontur tanah Jakarta yang didominasi tanah lunak dinilai menyimpan risiko tinggi.
Ia meminta pemerintah belajar dari pengalaman saat Jalan R.E. Martadinata di Jakarta Utara amblas total secara dramatis ke arah laut pada 2010 lalu.
“Kejadian yang sama pernah terjadi sekitar tahun 2010 ketika Jalan R.E. Martadinata itu amblas, runtuh ke badan air karena ternyata tanahnya labil. Potensi tanah atau jalan amblas ini bisa terjadi di berbagai tempat Jakarta jika memang aspek penurunan tanah, kondisi tanah lunak yang bertambah, dan kondisi tanah yang tidak stabil, ditambah lagi dengan beban volume kendaraan dengan tonase berlebih tidak menjadi perhatian serius kita,” pungkasnya. (H-2)
