Vladimir Putin Tegaskan Rusia Tak Akan Mundur dari Ukraina
Vladimir Putin(AFP)

JIKA Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin memiliki slogan resmi, apa yang paling cocok menggambarkannya?

“Rusia adalah apa adanya, dan kami tidak malu untuk menunjukkannya,” demikian yang pernah disampaikan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov dalam sebuah wawancara.

Namun, memasuki tahun 2026, sebuah versi baru yang lebih menggambarkan situasi saat ini datang dari penyanyi pop dan cerita rakyat veteran, Nadezhda Babkina. Setelah menerima penghargaan dari Presiden Putin di Kremlin, Babkina berujar di hadapan hadirin:

“Rusia tidak akan pernah menyerah berkat kode genetik multi-etnis kita yang luar biasa… yang menyatukan kita semua.”

“Siapa pun yang tidak menyukai hal itu,” tambahnya, “bisa pergi dan meracuni diri mereka sendiri.”

Ungkapan keras tersebut mencerminkan realitas politik Rusia saat ini: tidak menyesal, tidak bertobat, dan tidak mengenal kompromi. Sejak memerintahkan invasi besar-besaran ke Ukraina, Putin tidak menunjukkan niat sedikit pun untuk menghentikan perang yang kini telah memasuki tahun kelima tersebut.

Harapan pada Donald Trump Mulai Menguap

Meskipun Putin tetap teguh pada tuntutannya agar Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas, ada satu hal di Kremlin yang mulai berubah, yakni pandangan mereka terhadap Presiden AS Donald Trump.

Tahun lalu, para pejabat Rusia merasa optimis bahwa Trump akan membantu mewujudkan kesepakatan damai yang menguntungkan Moskow dengan menekan Kyiv. Istilah “semangat Anchorage”, merujuk pada KTT AS-Rusia di Alaska, bahkan sempat diagung-agungkan. Namun, karena kesepakatan damai tidak kunjung terwujud, optimisme itu mulai menguap.

“Saya tidak tahu tentang semangat Anchorage,” ujar ajudan kebijakan luar negeri Presiden Putin, Yuri Ushakov, baru-baru ini kepada TV negara Rusia. “Saya belum pernah menggunakan frasa itu.”

Dampak Perang yang Mendekat ke Moskow

Apa yang awalnya direncanakan Kremlin sebagai “operasi militer khusus” jangka pendek kini telah menjelma menjadi perang atrisi (saling menghabiskan kekuatan) yang berdarah. Sejak Februari 2022, Rusia harus membayar mahal dengan hilangnya banyak pasukan di medan perang, kerusakan ekonomi akibat ribuan sanksi internasional, serta kemunduran teknologi.

Kini, perang bahkan telah bergeser ke halaman rumah mereka sendiri. Drone Ukraina secara reguler mampu menembus jauh ke dalam wilayah Rusia untuk menargetkan kilang minyak dan infrastruktur energi, termasuk wilayah Moskow. Akibat kekhawatiran keamanan ini, parade tahunan Hari Kemenangan di Lapangan Merah pada 9 Mei lalu terpaksa diperkecil skalanya.

Kendati demikian, alih-alih meredam ketegangan, Rusia merespons tantangan ekonomi dan militer ini dengan eskalasi serangan udara masif ke kota-kota Ukraina. Kremlin berdalih serangan tersebut merupakan balasan atas hantaman Ukraina terhadap asrama mahasiswa di Starobilsk yang menewaskan 21 orang.

Retorika Damai yang Dibatasi

Meskipun kontrol media di Rusia sangat ketat, mulai muncul riak-riak diskusi publik mengenai opsi untuk mengakhiri perang. Vasily Kashin, seorang ilmuwan politik, menulis di jurnal Russia In Global Affairs bahwa menumbangkan rezim Ukraina saat ini secara teknis mustahil bagi Rusia tanpa melakukan pendudukan militer penuh dalam jangka panjang.

Sebuah artikel di tabloid pro-Kremlin, Moskovsky Komsomolets, bahkan sempat memuat argumen berani dari seorang pengacara bernama Dmitry Krasnov.

“…dalam sepanjang sejarah Rusia, kekalahan perang dan gencatan senjata yang memalukan secara teratur justru membawa pada terobosan baru, reformasi, dan secara mengejutkan menuju kemenangan baru… kerugian geopolitik besar terkadang lebih berguna daripada kemenangan yang gemilang.”

Tulisan yang mengisyaratkan agar Rusia mengakhiri perang tanpa harus mencapai ambisinya itu mengejutkan banyak pihak. Namun, saat artikel tersebut hendak diakses kembali secara daring beberapa hari kemudian, layar komputer hanya menampilkan pesan: “Error 404. Page not found.” Diskusi mengenai perdamaian mungkin mulai terbuka, tetapi di Rusia, hal itu tetap memiliki batasan yang sangat ketat. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *