
PARA astronom berhasil menemukan bukti pertama keberadaan medan magnet di sekitar planet-planet di luar tata surya kita (eksoplanet). Penemuan ini dicapai melalui studi mendalam terhadap angin kencang berkecepatan tinggi yang melanda dunia asing tersebut. Keberhasilan ini menandai pengukuran langsung pertama terhadap kekuatan medan magnet eksoplanet sekaligus menjadi lompatan besar dalam penelitian luar angkasa.
Mengingat kehidupan di Bumi dapat berjalan berkat adanya magnetosfer yang melindungi dari radiasi matahari yang berbahaya, riset ini dinilai akan sangat bermanfaat dalam misi perburuan tanda-tanda kehidupan di luar tata surya.
Menggunakan Very Large Telescope (VLT) dan teleskop Gemini North, tim ilmuwan mengukur kecepatan angin di tujuh eksoplanet raksasa gas gas serupa Jupiter yang sangat panas. Planet-planet ini terkunci secara pasang surut (tidally locked) dengan bintang induknya, sehingga memiliki sisi siang yang terus-menerus membara dan sisi malam yang dingin menghadap ruang angkasa.
Hasil pengamatan menunjukkan embusan angin di sana melesat dengan kecepatan antara 7.194 kilometer per jam hingga mencapai 24.993 km/jam. Sebagai perbandingan, angin tercepat yang pernah tercatat di planet Jupiter di tata surya kita hanya mencapai sekitar 1.496 km/jam. Para ilmuwan meyakini bahwa medan magnet eksoplanet inilah yang mengendalikan laju angin tersebut.
“Terobosan ini membuka jendela yang sama sekali baru dalam penelitian eksoplanet. Ini pertama kalinya kita dapat membandingkan lingkungan magnetik dunia lain, sebuah langkah kunci menuju pemahaman akhir tentang planet mana yang dapat bertahan hidup, mempertahankan airnya, dan mungkin bahkan, suatu hari nanti, menampung kehidupan seperti yang kita ketahui,” ujar anggota tim Julia Seidel, astronom di Laboratoire Lagrange, Observatoire de la Côte d’Azur, Prancis.
Hubungan Terbalik Suhu dan Angin
Pada awal penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy pada Selasa (2/6) ini, tim peneliti sebenarnya tidak berfokus pada medan magnet. Tujuan awal mereka hanyalah untuk mengetahui apakah angin di semua planet panas berperilaku sama. Namun, rasa ingin tahu mereka terusik saat menemukan bahwa kecepatan angin justru bervariasi tergantung pada suhu planet. Anehnya, semakin dingin planet tersebut, anginnya justru berembus semakin cepat dan dahsyat.
“Ini sama sekali berlawanan dengan intuisi karena, dengan kondisi yang sama, planet yang panas memiliki lebih banyak energi untuk mempercepat angin!” kata anggota tim Vivien Parmentier. “Sesuatu harus terjadi yang memperlambat kecepatan angin pada objek yang lebih panas.”
Parmentier dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa hubungan terbalik yang tidak biasa ini merupakan hasil dari medan magnet global di planet-planet tersebut. Medan magnet ini bekerja bagaikan rem yang memperlambat partikel bermuatan. Artinya, kecepatan angin dapat digunakan untuk menyimpulkan kekuatan medan magnet eksoplanet tersebut.
Aurora Raksasa di Planet Dua Sisi
Tim menemukan ketujuh eksoplanet tersebut memiliki medan magnet sekitar empat kali lebih kuat dari raksasa gas Saturnus, dan sekitar setengah dari kekuatan medan magnet Jupiter. Dengan kekuatan tersebut, planet-planet ini diperkirakan memiliki fenomena aurora warna-warni yang luar biasa megah hingga mampu meredupkan keindahan lampu utara (Aurora Borealis) dan selatan (Aurora Australis) di Bumi.
“Di Bumi, kita tahu keindahan aurora utara dan selatan, di mana partikel dari matahari menabrak medan magnet kita dan diarahkan menuju kutub, bertabrakan dengan gas di atmosfer untuk menghasilkan tampilan warna-warni hijau, merah muda, dan ungu,” kata anggota tim Bibiana Prinoth dari European Southern Observatory (ESO) di Garching, Jerman.
“Saya suka membayangkan bahwa beberapa dari dunia ini memiliki langit yang tidak hanya dipenuhi oleh bintang-bintang, tetapi juga dengan tirai cahaya warna-warni berukuran luas yang menari di atas planet yang setengahnya berada dalam siang abadi dan setengahnya lagi dalam malam tanpa akhir.” (Space/Z-2)
