
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (1/6/2026) waktu setempat berupaya meredam konflik yang kian memanas antara Israel dan HIzbullah. Langkah ini diambil guna mencegah kegagalan total perundingan damai dengan Iran yang tengah diupayakan pemerintahannya.
Trump menyatakan bahwa kedua belah pihak setuju menghentikan pertempuran. Ia juga mengeklaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan rencana serangan besar-besaran di Libanon. “Mari kita lihat berapa lama ini bertahan. Semoga untuk selamanya!” tulis Trump melalui unggahan di media sosialnya.
Diplomasi di Ambang Kehancuran
Langkah cepat Trump, yang mencakup panggilan telepon langsung kepada Netanyahu, tampaknya bertujuan menjaga agar negosiasi AS dengan Iran tidak runtuh. Pertempuran di Libanon menjadi hambatan utama dalam pembicaraan pengakhiran perang, mengingat Teheran menganggap konflik tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata AS-Iran.
Pejabat administrasi Trump mengungkapkan bahwa sang presiden menerima pengarahan dalam beberapa pekan terakhir yang menunjukkan bahwa konflik Israel-Hizbullah adalah alasan utama Iran tetap enggan mencapai kesepakatan dengan AS.
Meskipun Trump sempat melontarkan pernyataan kepada CNBC bahwa ia tidak peduli jika pembicaraan Iran yang, “Sangat membosankan,” itu berakhir, secara diplomatis ia terus menekan agar kesepakatan tercapai. Saat ini, AS dan Iran sedang mendiskusikan nota kesepahaman (MoU) untuk membuka blokade di Selat Hormuz dan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
- Hizbullah: Setuju pada persyaratan gencatan senjata menurut Kedutaan Libanon di Washington.
- Israel: Netanyahu menegaskan pasukan tetap beroperasi di Libanon Selatan dan akan menyerang, “Target teror di Beirut,” jika Hizbullah kembali menyerang.
- Reaksi Pasar: Ketidakpastian sempat memicu kenaikan harga minyak dunia, yang memberikan tekanan ekonomi tambahan bagi posisi Trump.
Tekanan Politik bagi Netanyahu
Di dalam negeri Israel, pengumuman Trump memicu reaksi keras. Netanyahu, yang akan menghadapi pemilihan umum akhir tahun ini, berada di bawah tekanan besar untuk melanjutkan kampanye militer di Libanon. Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, secara terbuka menentang tekanan AS tersebut.
“Inilah saatnya untuk mengatakan ‘Tidak’ kepada teman kita, Presiden Trump,” tegas Ben-Gvir. Sementara itu, pemimpin oposisi Yair Lapid menyebut posisi Israel saat ini sudah seperti negara protektorat total di bawah kendali AS.
Eskalasi Militer Akhir Pekan
Meski upaya diplomatik terus berjalan, situasi di lapangan tetap rapuh. Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan bahwa pesawat tempur Amerika menyerang situs radar dan fasilitas komando drone Iran di Pulau Qeshm dan Gorik pada akhir pekan lalu. Serangan ini merupakan balasan setelah Iran menembak jatuh drone MQ-1 milik Amerika.
Di sisi lain, Teheran dilaporkan sempat menargetkan pasukan AS di Kuwait dengan rudal. Ketegangan militer ini terjadi di tengah upaya mediator untuk menyelesaikan isu-isu krusial seperti komitmen nuklir Iran dan jadwal pemberian bantuan finansial sebagai bagian dari relaksasi sanksi.
Hingga berita ini diturunkan, Trump tetap optimistis bahwa kesepakatan akan tercapai. “Duduk saja dan santai. Semua akan berakhir baik,” pungkasnya. (WSJ/I-2)
