Hari Lahir Pancasila, Dedi Mulyadi Ajak Warga Mencontoh Kehidupan Masyarakat Desa
PADA peringatan Hari Lahir Pancasila, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak warga untuk mencontoh teladan dari warga yang hidup di desa dan kampung yang dianggap terpencil, terbelakang dan direndahkan sebgai masyarakat yang jauh dari peradaban.(MI/Sugeng)

PADA peringatan Hari Lahir Pancasila, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mencontoh teladan hidup warga di pedesaan dan kampung-kampung terpencil. Meski sering dianggap terbelakang atau jauh dari peradaban, masyarakat desa dinilai sebagai representasi nyata dari pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Pria yang akrab disapa KDM tersebut menegaskan bahwa esensi Pancasila bukan terletak pada hafalan teks, melainkan pada perilaku sehari-hari. Menurutnya, warga di pelosok telah mempraktikkan ideologi negara tersebut dalam napas dan jiwa mereka.

“Padahal, dalam diri mereka, justru Pancasila hidup dalam napas, dalam jiwa, dan dalam perbuatan. Kita jangan pernah menggurui mereka yang tidak hafal teks Pancasila, tetapi melaksanakannya dalam kehidupan nyata,” ujar Dedi Mulyadi di Bandung, Senin (1/6).

Mimpi Bernegara dalam Kehidupan Desa

Dedi menuturkan bahwa mimpi besar dalam bernegara dan berpancasila adalah terwujudnya kehidupan yang dilandasi nilai ketuhanan serta tenggang rasa antarsesama manusia. Nilai-nilai ini, lanjutnya, tercermin dari budaya gotong royong yang masih kental di desa untuk mewujudkan harapan keluarga maupun masyarakat.

Ia menambahkan, pola hidup masyarakat desa yang gemar berkumpul dan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah adalah bentuk nyata dari asas mufakat. Selain itu, distribusi rasa adil, baik secara material maupun imaterial, lebih terasa di lingkungan tersebut.

“Itulah mimpi dalam kehidupan bernegara dan berpancasila. Seluruh mimpi itu terasa hidup justru di desa, di kampung yang dianggap terpencil, terbelakang, dan kadang direndahkan sebagai masyarakat yang jauh dari peradaban,” tandasnya.

Baca Juga: Pancasila sebagai Identitas Bangsa yang Harus Terus Dirawat

Refleksi dan Kritik Diri

Di sisi lain, KDM memberikan kritik tajam terhadap fenomena saat ini, di mana banyak pihak—termasuk dirinya—rutin membacakan teks Pancasila dalam upacara atau menggelar peringatan seremonial, namun perilakunya masih jauh dari spirit Pancasila itu sendiri.

Ia berharap momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi titik balik kesadaran kolektif bagi seluruh warga negara Indonesia.

“Semoga di Hari Lahir Pancasila menyadarkan kita semua bahwa Pancasila bukan hiasan ruang kerja, Pancasila bukan ucapan di upacara, tapi Pancasila ialah kehidupan yang tumbuh dalam diri dan masyarakat. Semoga kita hidup rukun, berideologi, berfalsafah, berbangsa, dan bernegara Pancasila,” tegas KDM.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *