Anak Suka Berbohong Gejala Gangguan Jiwa? Studi 16 Tahun Ungkap Fakta Mengejutkan
Ilustrasi(Magnific)

SELAMA bertahun-tahun, orangtua dan guru kerap menganggap kebiasaan berbohong yang terus-menerus pada masa kanak-kanak sebagai lampu merah. Sifat tidak jujur ini sering dinilai sebagai indikasi awal dari masalah perilaku yang jauh lebih besar di masa depan. Namun, benarkah asumsi tersebut terbukti secara ilmiah?

Sebuah tim peneliti mematahkan kekhawatiran berlebih ini lewat studi jangka panjang selama 16 tahun. Dipimpin Victoria Talwar, profesor psikologi pendidikan dan konseling di McGill University, riset ini mengamati lebih dari 3.000 anak TK di Quebec, Kanada, sejak akhir tahun 1980-an hingga mereka menginjak usia 20-an.

Pola Kebohongan yang Memudar

Berbeda dengan studi terdahulu yang hanya mengamati anak dalam waktu singkat, riset ini berhasil memetakan perkembangan sifat jujur seiring bertambahnya usia. Melalui laporan berkala dari orangtua dan guru, para peneliti mengelompokkan anak-anak berdasarkan frekuensi berbohong yang terdeteksi.

Hasil pemantauan guru menunjukkan bahwa hampir tiga perempat anak termasuk dalam kelompok “pembohong tingkat rendah”, di mana intensitas berbohong mereka terpantau minim dan semakin memudar seiring bertambahnya usia. Sementara itu, sekitar satu dari 20 anak yang awalnya dicap sebagai pembohong berat justru menunjukkan penurunan perilaku bohong yang sangat drastis saat memasuki usia pertengahan remaja.

Fakta ini tentu melegakan para orangtua. Sifat suka berbohong di masa kecil ternyata tidak mengunci masa depan anak untuk menjadi pembohong seumur hidup.

“Sebagian besar anak dalam penelitian kami menunjukkan tingkat kebohongan yang rendah atau menurun seiring berjalannya waktu,” kata Talwar.

Kapan Kebohongan Menjadi Sinyal Bahaya?

Meskipun mayoritas anak akan berhenti berbohong dengan sendirinya, penelitian ini mengidentifikasi kelompok minoritas yang frekuensi berbohongnya terus meningkat. Anak-anak yang dinilai memiliki tingkat agresi tinggi pada usia 6 tahun, seperti suka berkelahi, merundung, dan tidak mau berbagi, menjadi kelompok yang paling rentan masuk dalam kategori pembohong berat.

Selain agresi, sifat impulsif atau bertindak tanpa berpikir pada usia 12 tahun juga berkaitan erat dengan peningkatan perilaku tidak jujur ini. Kedua sifat tersebut menunjukkan berbohong biasanya berjalan beriringan dengan paket perilaku melanggar aturan lainnya.

Hubungan dengan Masa Dewasa

Saat para peserta mencapai usia dewasa, peneliti mencocokkan data masa kecil mereka dengan catatan pengadilan serta penilaian kesehatan mental. Hasilnya menunjukkan anak-anak yang jarang berbohong memiliki tingkat kriminalitas dan risiko gangguan kepribadian antisosial yang paling rendah.

Sebaliknya, kelompok pembohong berat memang memiliki keterkaitan dengan catatan kriminal, mulai dari kasus non-kekerasan seperti penipuan dan kepemilikan narkoba, hingga tindakan kriminal dengan kekerasan. Kendati demikian, angkanya relatif rendah, sebagian besar anak yang sering berbohong di masa kecil rupanya tetap tumbuh tanpa memiliki catatan kriminal sama sekali.

Melalui studi yang diterbitkan dalam jurnal Development and Psychopathology ini, para ahli mengingatkan berbohong pada anak merupakan bagian dari proses belajar sosial dan bukan selalu sinyal bahaya. Respons yang tepat dari orang tua bukanlah hukuman, melainkan pendampingan.

Menurut Profesor Talwar, kebohongan yang terus meningkat bisa menjadi sinyal perlunya dukungan dan intervensi dini. (Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *