Kepatuhan Jemaah dan Kesiagaan Petugas Kunci Kelancaran Mobilisasi ke Mina
Jemaah haji Indonesia mabit di Muzdalifah.(Dok. MCH 2026/Akmal)

 

OPERASIONAL penyelenggaraan ibadah haji 2026 mencatat capaian signifikan, khususnya dalam manajemen mobilitas jemaah di fase krusial ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Strategi mitigasi yang dirancang untuk mengurai potensi keterlambatan serta kepadatan pergerakan jemaah dinilai berjalan efektif di lapangan.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekah, Ihsan Faisal, mengungkapkan bahwa pergerakan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina menunjukkan progres yang sangat positif. Setelah merampungkan prosesi wukuf di Arafah pada 9 Zulhajah atau Selasa (26/5), jemaah mulai diberangkatkan secara bertahap menuju Muzdalifah sejak sore hari.

Hasilnya, seluruh jemaah haji Indonesia sudah berhasil dievakuasi dan diberangkatkan menuju Mina pada pukul 07.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Kekhawatiran terkait potensi keterlambatan pergerakan menuju Mina berhasil ditepis berkat kedisiplinan jemaah, kerja keras petugas, serta optimalisasi skema murur.

“Alhamdulillah pada tanggal 10 Zulhijjah kemarin pagi, kita bisa menyatakan atau bisa meng clear-kan jemaah di Muzdalifah pada pukul 07.00. Alhamdulillah ini luar biasa, ini lebih cepat dari tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya itu 07.30, sekarang bisa 07.00,” ujar Ihsan saat diwawancarai, Kamis (28/5).

Menurut Ihsan, kunci utama percepatan evakuasi ini terletak pada penerapan sistem pembukaan dua jalur di Muzdalifah. Begitu arus kedatangan bus dari Arafah selesai dan seluruh jemaah telah turun sejak malam hari, jalur tersebut langsung dialihkan fungsinya untuk mempercepat keberangkatan bus menuju Mina.

“Setelah jemaah turun dari bus Arafah telah habis saat subuh, kami segera memberlakukan pembukaan dua jalur. Praktis, antrean kepadatan jemaah menuju bus bisa terurai dari pintu kanan dan kiri,” jelasnya.

Ihsan juga memberikan apresiasi terhadap kepatuhan jemaah yang tertib mengantre dan mengikuti instruksi petugas di lapangan. Kedisiplinan kolektif ini dinilai menjadi modal krusial agar fase-fase ibadah selanjutnya dapat berjalan dengan indikator kelancaran yang sama.

Memasuki fase mabit (bermalam) di Mina, Ihsan menjelaskan bahwa infrastruktur di kawasan Jamarat kini telah berkembang pesat demi menjamin keselamatan jemaah. Area melontar jumrah tersebut saat ini memiliki struktur tiga lantai dengan penerapan sistem arus searah (one-way) guna menghindari tabrakan arus jemaah.

“Jamarat ini untuk kita ketahui telah mengalami perkembangan era terkini. Kalau dulu kan jamarat cuma tiang atau tugu satu, sekarang sudah luar biasa besarnya. Bisa kita lihat ada jamarat first floor, lantai pertama, lantai kedua, bahkan lantai ketiga,” paparnya.

Untuk jemaah haji Indonesia, sebagian besar diarahkan melalui lantai tiga lantaran aksesnya yang dinilai paling strategis dari area tenda Mina. Jalur pergerakan dirancang melewati terowongan Muaisim pertama, keluar ke area terbuka, lalu masuk kembali ke terowongan kedua yang langsung menembus area Jamarat lantai tiga.

“Jadi bisa langsung muter ke jamarat sana, langsung bisa melempar ula, wustha dan aqabah. Yang setelah aqabah nanti putar belok kanan, kemudian muter lagi dan langsung kembali lagi ke tenda-tenda jemaah kita,” terang Ihsan.

Sementara itu, bagi jemaah yang mengambil program tanazul. mereka diakomodasi melalui lantai satu untuk melontar jumrah sebelum melanjutkan perjalanan.

Kendati fase awal berjalan mulus, Ihsan tetap mengimbau jemaah untuk tidak lengah dan terus menjaga stamina selama tiga hari masa mabit di Mina. Evaluasi berkala akan terus dilakukan agar performa pelayanan tidak menurun.

“Evaluasi ke depannya lebih baik lagi. Tenu para jemaah juga diimbau supaya lebih teratur, lebih disiplin. Juga para petugas pun harus lebih kuat lagi menghadapi riak-riak dari jemaah. Sudah capek, harus menahan diri, emosi dan sebagainya,” ujarnya.

Ihsan berharap tren positif di Arafah dan Muzdalifah ini menjadi motor penggerak kesuksesan fase Mina hingga seluruh rangkaian haji selesai.

“Insyaallah semuanya berjalan lancar, dan mudah-mudahan kita melaksanakan fase Mina ini juga bisa dalam kondisi lancar dan sukses,” harapnya.

Setelah menyelesaikan lempar Jumrah Aqabah pada 10 Zulhajah, jutaan jemaah haji pada hari ini, Kamis (28/5), kembali bergerak memadati kompleks Jamarat di Mina. Mereka dijadwalkan melaksanakan lontar tiga jumrah sekaligus, yaitu Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah, yang menandai dimulainya rangkaian ibadah di Hari Tasyrik hingga 13 Zulhajah mendatang.

Pada 11 Zulhajah atau Hari Tasyrik pertama ini, jemaah diwajibkan melontar ketiga jumrah tersebut secara berurutan, masing-masing dengan menggunakan tujuh butir kerikil.

Mengingat kompleksitas massa di lapangan, Otoritas Arab Saudi bersama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia terus mengeluarkan imbauan tegas agar jemaah tidak memaksakan diri melontar pada waktu-waktu puncak (peak hours), terutama di siang hari. Faktor cuaca dengan suhu panas ekstrem serta kepadatan koridor Jamarat berisiko tinggi memicu kelelahan akut hingga dehidrasi berat bagi jemaah. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *