
MANTAN Ibu Negara Amerika Serikat, Jill Biden, membuat pengakuan mengejutkan mengenai penampilan suaminya, Presiden Joe Biden, dalam debat pemilihan presiden yang berujung fatal pada 2024. Jill mengaku sempat mengira suaminya sedang terserang stroke saat berdebat melawan Donald Trump.
“Saya ketakutan, karena saya belum pernah melihat Joe seperti itu sebelumnya atau sejak saat itu. Tidak pernah,” kata Jill Biden kepada CBS News.
“Saya tidak tahu apa yang terjadi,” ujarnya. “Saat saya menontonnya, saya berpikir, ‘Ya Tuhan, dia terkena stroke.’ Dan itu menakutkan saya setengah mati.”
Wawancara emosional Jill Biden bersama Rita Braver dari program CBS News Sunday Morning ini dijadwalkan akan tayang pada hari Minggu mendatang.
Sebagai salah satu penasihat paling berpengaruh bagi suaminya, Jill Biden diketahui sebagai sosok yang mendampingi Joe Biden sepanjang karier politiknya. Ia juga menjadi salah satu orang yang akhirnya mendorong sang suami untuk mundur dari kontestasi politik 2024 setelah penampilan debat bulan Juni tersebut memicu kepanikan massal di internal Partai Demokrat.
Saat debat berlangsung, performa Biden yang kala itu berusia 81 tahun langsung memicu kekhawatiran pemilih terkait faktor usia dan ketajaman mentalnya. Suara Biden terdengar serak, yang menurut tim kampanyenya disebabkan oleh sakit flu, dan ia sempat terlihat kehilangan fokus di tengah argumennya.
Meski tim kampanye sempat bersikeras bahwa Biden tidak akan mundur, tekanan dari internal partai kian tidak terbendung. Rentetan blunder dalam beberapa pekan setelah debat, termasuk perilakunya yang tampak rapuh setelah diagnosis Covid-19, akhirnya memaksa Biden mengakhiri pencalonannya dan memberikan dukungan kepada Wakil Presiden Kamala Harris.
Harris kemudian maju sebagai pengganti nominasi Demokrat hanya tiga bulan sebelum pemilu, sebelum akhirnya kalah dari Donald Trump. Belakangan, dalam memoar pribadinya, Harris melayangkan kritik tajam terhadap keputusan awal Biden yang memaksakan diri maju untuk periode kedua.
“‘Itu keputusan Joe dan Jill.’ Kami semua mengatakan itu, seperti sebuah mantra, seolah-olah kami semua telah dihipnotis,” tulis Harris dalam memoarnya. “Apakah itu sebuah anugerah, atau itu sebuah kecerobohan? Mengenang hal itu, saya pikir itu adalah sebuah kecerobohan.” (BBC/Z-2)
