
LAGU kebangsaan lama “Glory, Glory” menggema di dalam stadion raksasa saat Tottenham Hotspur berhasil bangkit dari tepi jurang degradasi paling memalukan dalam sejarah Liga Premier Inggris.
Kemenangan atas Everton di hari terakhir kompetisi memastikan Spurs bertahan di kasta tertinggi, sekaligus mengirim West Ham United turun kasta ke Championship. Pemain dan suporter akhirnya bisa bernapas lega dan menatap musim depan sebagai klub Liga Premier Inggris.
ENIC Keluar
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Sebuah spanduk besar dibentangkan oleh suporter dengan tulisan menohok: “Menjanjikan Kesuksesan. Menghasilkan Kegagalan. ENIC Keluar.”
Bagi para suporter yang sudah kenyang dengan mediocrity (sifat biasa-biasa saja), protes ini sangat wajar. Bagaimanapun, ini baru kemenangan kandang ketiga yang mereka saksikan musim ini. Bagi para pemain, euforia instan ini memang bisa dimaklumi, tetapi rasa malu seharusnya segera datang saat mendengar suporter menyanyikan yel-yel “Kita Bertahan”. Kata-kata yang biasanya menjadi milik tim papan bawah tersebut seharusnya mengusik seluruh elemen klub.
Musim ini berjalan sangat buruk bagi Spurs yang finis di peringkat ke-17 untuk dua musim berturut-turut. Padahal, tanda-tanda keretakan sudah tertutupi oleh kemenangan di Liga Europa musim lalu. Setelah Ange Postecoglou dipecat, masalah tersebut kembali terekspos begitu musim baru dimulai.
Manajemen klub turut andil dalam kekacauan ini, terutama setelah keputusan aneh menunjuk Igor Tudor sebagai penerus Thomas Frank. Frank dipecat setelah delapan bulan, sementara Tudor didepak hanya dalam 44 hari setelah menelan lima kekalahan dari tujuh pertandingan.
Langkah penyelamatan yang berhasil mereka lakukan adalah meyakinkan Roberto De Zerbi untuk datang sebagai pelatih darurat sebelum musim berakhir. De Zerbi mengakui dirinya harus berperan sebagai psikolog sekaligus pelatih untuk mengangkat mental Spurs.
“Sekarang sekitar jam 7 malam, dan sekitar jam 8 atau 9 malam kami akan mulai bekerja untuk musim depan,” ujar De Zerbi menegaskan urgensi situasi klub.
“Musim depan kami harus membangun tim yang sangat top. Kami tidak perlu mengubah terlalu banyak pemain di skuad, tetapi kami harus mendatangkan beberapa pemain tingkat utama,” tambahnya.
Cedera Pemain
Meski diterpa badai cedera pemain kunci seperti James Maddison dan Dejan Kulusevski, pencapaian finis di peringkat ke-17 tetap tidak bisa dimaklumi untuk klub dengan stadion semegah Spurs dan pendapatan besar dari Liga Champions.
Bek Spurs, Micky van de Ven, mencoba optimistis menatap masa depan. “Saya sangat percaya diri. Dengan orang-orang yang tepat di sini sekarang saya yakin. Finis di peringkat ke-17 dua tahun berturut-turut adalah hal yang tidak bisa diterima oleh kami,” tegasnya.
Spurs kini tidak memiliki waktu untuk bersantai jika ingin menghindari pengulangan memori kelam ini di musim depan. Evaluasi total harus segera dimulai dari jajaran manajemen hingga ke dalam lapangan. (BBC/Z-2)
