
Kemudahan akses pembiayaan digital membuat kebutuhan terhadap penilaian kemampuan bayar semakin penting. Perluasan akses pembiayaan dinilai perlu berjalan beriringan dengan informasi perkreditan yang memadai agar keputusan pembiayaan tetap mempertimbangkan profil dan risiko calon penerima.
Salah satu instrumen yang digunakan industri adalah credit scoring. Dengan informasi perkreditan yang lebih komprehensif, penyelenggara pembiayaan dapat memiliki gambaran yang lebih terukur mengenai profil calon penerima, termasuk riwayat dan kemampuan finansialnya.
Perspektif tersebut menjadi bagian dari webinar bertajuk Optimalisasi Credit Scoring dan Informasi Perkreditan LPIP untuk Mendorong Pembiayaan Berkualitas dan Inklusif. Salah satu perspektif industri disampaikan Ronny Wijaya, Direktur Indodana Fintech (PT Artha Dana Teknologi), yang juga menjabat Ketua Bidang Risk Control & Technology Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).
Akses Pembiayaan dan Risiko
Menurut Ronny, credit scoring dapat membantu industri memahami calon penerima pembiayaan secara lebih menyeluruh sebelum keputusan pembiayaan dibuat.
“Credit scoring memiliki peran penting dalam membantu industri memahami profil dan kemampuan calon penerima pembiayaan secara lebih komprehensif. Dengan dukungan informasi perkreditan yang semakin baik, proses pengambilan keputusan pembiayaan dapat dilakukan secara lebih terukur, sekaligus membuka peluang akses bagi masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam memperoleh pembiayaan formal,” ujar Ronny dikutip Jumat (2/10).
Penggunaan informasi perkreditan juga berkaitan dengan pembentukan rekam jejak kredit masyarakat. Riwayat pembiayaan yang tercatat dalam ekosistem perkreditan dapat menjadi salah satu informasi bagi lembaga pembiayaan dalam memahami perilaku dan profil risiko calon penerima.
Dalam konteks tersebut, credit scoring tidak hanya berfungsi untuk membantu industri menentukan apakah pembiayaan dapat diberikan. Informasi yang tercatat juga dapat menjadi bagian dari proses membangun reputasi kredit seseorang di dalam ekosistem pembiayaan formal.
Bagi industri, kondisi tersebut menjadi penting karena ekspansi akses pembiayaan membawa konsekuensi pada kebutuhan pengelolaan risiko. Semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses pembiayaan, semakin penting pula memastikan penyaluran dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan finansial penerima.
Kualitas Data Jadi Fondasi
Pemanfaatan data dalam credit scoring memungkinkan penyelenggara mempertimbangkan lebih banyak indikator ketika menilai calon penerima pembiayaan. Hal ini menjadi semakin relevan ketika produk pembiayaan digital menawarkan proses yang relatif cepat dan mudah diakses.
Namun, perluasan akses tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan proses. Kualitas dan kredibilitas informasi perkreditan juga menjadi bagian penting agar keputusan pembiayaan dapat dilakukan secara lebih terukur.
Kolaborasi antara regulator, asosiasi, penyelenggara fintech, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk mendukung pemanfaatan informasi perkreditan dalam ekosistem pembiayaan.
“Inklusi keuangan bukan hanya tentang semakin banyak masyarakat yang mendapatkan akses pembiayaan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan akses tersebut diberikan secara tepat dan bertanggung jawab,” kata Ronny.
Menurut dia, penguatan kualitas data dan informasi perkreditan menjadi bagian penting dalam membangun pertumbuhan industri pembiayaan yang berkelanjutan. Ekosistem pembiayaan juga perlu dibangun agar dapat dipercaya oleh seluruh pihak sehingga perluasan akses dapat berjalan seiring dengan kualitas pembiayaan dan pertumbuhan industri yang sehat.
Ke depan, perkembangan pembiayaan digital akan semakin membutuhkan koordinasi antara regulator, asosiasi, penyelenggara fintech, dan berbagai pemangku kepentingan. Tantangannya bukan hanya memperluas akses, tetapi juga memastikan pembiayaan yang diberikan sesuai dengan profil dan kemampuan finansial penerimanya. (E-3)
