
Provinsi Jawa Timur terus mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung produksi gula nasional. Memasuki tahun 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama para pemangku kepentingan industri gula masif menjalankan strategi bongkar ratoon guna mengejar target swasembada gula nasional yang telah dicanangkan pemerintah pusat.
Langkah ini diambil menyusul evaluasi terhadap penurunan produktivitas di sejumlah sentra perkebunan tebu rakyat. Banyak tanaman tebu milik petani yang telah melewati masa produktif optimal karena terus dilakukan keprasan (ratoon) selama bertahun-tahun tanpa adanya peremajaan bibit secara total.
Urgensi Revitalisasi Melalui Bongkar Ratoon
Secara teknis, bongkar ratoon adalah proses membongkar akar tanaman tebu lama dan menggantinya dengan bibit baru (plant cane). Strategi ini dianggap krusial karena beberapa alasan utama:
- Peningkatan Rendemen: Varietas baru yang ditanam memiliki potensi rendemen di atas 8-9%, jauh lebih tinggi dibandingkan tebu ratoon tua yang seringkali hanya mencapai 6-7%.
- Ketahanan Hama: Bibit unggul hasil riset terbaru lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit yang kerap menyerang tanaman tua.
- Optimalisasi Lahan: Dengan input pupuk yang sama, tanaman baru mampu menghasilkan tonase tebu yang lebih besar per hektarenya.
Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur menyatakan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran khusus untuk bantuan bibit unggul dan pendampingan teknis bagi kelompok tani yang berkomitmen melakukan bongkar ratoon secara serentak.
Sinergi Petani dan Pabrik Gula
Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran Pabrik Gula (PG) dalam memberikan jaminan serapan hasil panen. Sinergi kemitraan antara PG dan petani tebu rakyat diperkuat melalui pemberian kredit modal kerja dan penyediaan alat mesin pertanian (alsintan) untuk mempermudah proses pembongkaran lahan.
Catatan Redaksi: Berdasarkan data terbaru, Jawa Timur menyumbang lebih dari 50% produksi gula nasional. Jika produktivitas naik sebesar 15-20% melalui program ini, maka defisit gula konsumsi nasional diprediksi akan tertutup pada akhir tahun 2026.
Tantangan di Lapangan
Meskipun menjanjikan hasil yang lebih besar, tantangan utama terletak pada masa tunggu petani. Proses bongkar ratoon berarti petani harus kehilangan satu siklus panen singkat atau mengalami penundaan pendapatan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mendorong program tanaman sela atau bantuan tunai sementara agar kesejahteraan petani tetap terjaga selama masa tanam ulang.
Dengan konsistensi implementasi strategi bongkar ratoon, Jawa Timur optimis dapat memimpin jalan bagi Indonesia untuk meraih kedaulatan pangan, khususnya di sektor pemanis, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi para petani tebu di daerah.
FAQ: Apa itu Bongkar Ratoon Tebu?
Apa perbedaan ratoon dan plant cane?
Ratoon adalah tanaman yang tumbuh kembali dari sisa tebangan sebelumnya, sedangkan plant cane adalah tanaman baru yang berasal dari bibit (bongkar ratoon).
Berapa lama idealnya tebu harus dibongkar ratoon?
Idealnya, setelah 3 hingga 4 kali masa kepras (ratoon), tanaman tebu harus dibongkar total untuk menjaga kualitas rendemen dan kesehatan tanah.
