
SERANGAN udara Israel pada Minggu (24/5) dini hari menewaskan tiga anggota keluarga Palestina, termasuk seorang bayi berusia satu tahun, di wilayah pusat Jalur Gaza. Insiden tragis ini terjadi di tengah situasi Gaza yang tetap dicekam kekerasan harian meskipun gencatan senjata formal diberlakukan sejak Oktober lalu.
Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah mengonfirmasi menerima jenazah pasangan suami istri dan bayi mereka setelah rudal menghantam apartemen residensial di kamp pengungsi Al-Nuseirat sebelum fajar menyingsing.
“Dia sedang tidur di rumahnya bersama istri dan putranya ketika rudal itu mendarat tepat di tempat tidur mereka,” ujar Maram Abu Malouh, ibu dari pria yang tewas dalam serangan tersebut, kepada AFP.
Duka di Tengah Reruntuhan
Rekaman video menunjukkan kerabat korban yang berduka di rumah sakit. Ketiga jenazah terbungkus kain kafan putih.
Badan Pertahanan Sipil Gaza, yang beroperasi sebagai layanan penyelamatan, mengonfirmasi jumlah korban tewas tersebut. Selain korban jiwa, pihak rumah sakit menyatakan sekitar 10 orang lain mengalami luka-luka.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar langsung dari militer Israel mengenai kematian tiga warga sipil tersebut. Namun, pihak militer mengeklaim telah menyerang tiga fasilitas penyimpanan senjata Hamas di Gaza tengah dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
- Palestina: Sedikitnya 890 orang tewas sejak gencatan senjata 10 Oktober (Data Kemenkes Gaza/PBB).
- Israel: Militer melaporkan 5 tentara tewas dalam periode yang sama.
Pelanggaran Gencatan Senjata
Meskipun gencatan senjata disepakati sejak Oktober, baik militer Israel maupun Hamas saling menuduh satu sama lain melakukan pelanggaran. Israel menegaskan pihaknya tetap memiliki hak untuk menyerang target yang dianggap sebagai ancaman.
Pada Senin pagi, serangan udara lain dilaporkan menghantam Deir el-Balah. Meski tidak memakan korban jiwa, serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur yang masif. Lubang besar menganga di fasad bangunan dengan puing-puing beton yang berserakan di area sekitar.
Warga setempat, termasuk anak-anak, terlihat mengais sisa-sisa barang di antara reruntuhan bangunan yang hancur. Pembatasan media dan akses yang terbatas di Jalur Gaza membuat verifikasi independen terhadap angka korban dan cakupan pertempuran menjadi tantangan besar bagi lembaga internasional. (I-2)
