
FAKULTAS Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan konsinyering intensif sebagai upaya memperkuat kualitas akademik dan tata kelola institusi. Kegiatan yang berlangsung di Bogor pada 20-22 Mei 2026 tersebut diikuti jajaran pimpinan fakultas, mulai dari Dekan FEB Ibnu Qizam, para Wakil Dekan, hingga seluruh Ketua Program Studi (Kaprodi) dan Sekretaris Program Studi (Sekprodi) di lingkungan FEB UIN Jakarta.
Agenda konsinyering dibuka langsung oleh Dekan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam sambutannya, Ibnu Qizam menegaskan pentingnya membangun sinergi, menjaga disiplin operasional, serta menyesuaikan diri dengan standar global agar program studi di FEB mampu bersaing di level nasional maupun internasional.
“Kehadiran lengkap para Wakil Dekan serta unsur prodi, menjadi bukti komitmen kuat fakultas, untuk merumuskan langkah strategis ke depan secara komprehensif,” ujar Ibnu dikutip pada Minggu (24/5).
Untuk memperdalam pembahasan mengenai strategi pengelolaan fakultas dan program pascasarjana berstandar internasional, FEB UIN Jakarta menghadirkan akademisi sekaligus pakar manajemen, Amin Wibowo yang saat ini menjabat sebagai Board of Directors MBA FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Dalam sesi utama, Amin memaparkan materi bertajuk “Pengelolaan Program Magister Manajemen: Pengalaman MBA (MM) FEB UGM sebagai Benchmark Strategis”.
Ia menjelaskan perjalanan panjang MM UGM sebagai program Magister Manajemen tertua di Indonesia sejak berdiri pada 1988, hingga berhasil meraih posisi peringkat pertama di Indonesia dan peringkat ke-30 Asia versi QS Global MBA Rankings 2026.
Amin juga menguraikan tujuh pilar utama yang menjadi fondasi keberlanjutan reputasi sekolah bisnis. Pilar tersebut meliputi otonomi tata kelola operasional, kejelasan positioning institusi, komitmen terhadap akreditasi internasional, kombinasi tenaga pengajar dari kalangan akademisi dan praktisi, seleksi mahasiswa yang ketat, diversifikasi sumber pendanaan, hingga penguatan jaringan alumni.
“Akreditasi global seperti AACSB bukan sekadar piagam hiasan di tembok, atau alat marketing. Ia merupakan sebuah disiplin operasional, yang memaksa institusi untuk terus mengukur, mengevaluasi, dan memperbaiki kualitas mutunya secara berkelanjutan,” kata Amin.
Melalui kegiatan ini, FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memperoleh berbagai pembelajaran penting dari praktik tata kelola institusi yang telah berstandar global.
Selain itu, forum tersebut juga dimanfaatkan untuk merumuskan diferensiasi utama fakultas serta memperkuat ekosistem kurikulum agar mampu menghadapi tantangan disrupsi digital di masa depan. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat terwujudnya visi fakultas dalam mencetak lulusan yang unggul, kompetitif, dan memiliki reputasi internasional. (E-4)
