
SEIRING dengan evolusi peperangan modern, wajah pengorbanan di medan tempur kini mengalami perubahan signifikan. Dalam konflik yang pecah dengan Iran sejak akhir Februari lalu, proporsi prajurit perempuan Amerika Serikat yang terluka atau gugur dalam tugas mencapai angka tertinggi dibandingkan perang-perang sebelumnya di Irak dan Afganistan.
Data Pentagon menunjukkan pergeseran statistik yang mencolok. Jika pada perang Irak dan Afganistan perempuan mencakup sekitar 2 persen dari total korban tempur, dalam konflik dengan Iran saat ini, perempuan menyumbang 12 persen dari korban luka (47 dari 405 orang) dan 23 persen dari total prajurit yang gugur (3 dari 13 orang).
Kisah Ashley Pruitt: Dedikasi di Angkasa
Salah satu sosok yang gugur ialah Sersan Teknis Ashley Pruitt, 34. Ia kehilangan nyawanya pada Maret setelah tabrakan di udara antara dua pesawat tanker pengisi bahan bakar KC-135 di atas wilayah Irak. Tragedi ini terjadi di hari-hari awal perang saat lalu lintas udara militer di Timur Tengah sedang sangat padat.
Ashley dikenal sebagai boom operator yang andal, tugas krusial yang bertanggung jawab menyambungkan saluran bahan bakar ke jet tempur di tengah penerbangan. “Dia sangat mencintai tanggung jawab dan dinamika menjadi bagian dari kru,” kenang suaminya, Greg Pruitt. Ashley meninggalkan dua anak, Emilia, 3, dan Oliver, 12.
- Perang Irak/Afganistan: 2% dari total korban tempur.
- Konflik Iran (2026): 23% dari total prajurit yang gugur (3 dari 13 orang).
- Prajurit yang Gugur: Ashley Pruitt, 34, Nicole Amor, 39, dan Ariana Savino, 31.
Nicole Amor dan Pesan Girl Power
Master Sersan Nicole Amor, 39, juga menjadi bagian dari statistik memilukan ini. Ia gugur bersama lima prajurit lain pada 1 Maret ketika drone Iran menghantam pangkalan mereka di Kuwait. Sebagai logistikus Angkatan Darat, Nicole bertanggung jawab atas pergerakan pasokan dan peralatan unitnya.
Suaminya, Joey Amor, mengenang Nicole sebagai ibu yang luar biasa bagi Adeline, 9, dan Owen, 18. Nicole sering mengajarkan nilai kekuatan kepada putrinya melalui permainan sederhana, Girl Power, saat menunggu lampu merah berubah hijau. “Itu membuat putri saya merasa lebih kuat dan selaras dengan jati dirinya,” ujar Joey dengan emosional.
Mengapa Risiko Prajurit Perempuan Meningkat?
Elisa Cardnell, presiden Service Women’s Action Network, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah korban wanita tidaklah mengejutkan. Ada dua faktor utama yang mendasarinya:
- Garis Depan yang Meluas: Ketergantungan Iran pada drone serang dan rudal jarak jauh membuat seluruh fasilitas AS di Timur Tengah kini berada di garis depan, tanpa memandang posisi administratif atau tempur.
- Keterbukaan Posisi Tempur: Sejak militer AS membuka seluruh posisi tempur bagi perempuan 10 tahun lalu, semakin banyak perempuan yang mengisi pos di infanteri, kavaleri, dan operasi khusus yang memiliki risiko paparan tempur tinggi.
Kehilangan ini terjadi di tengah tinjauan besar-besaran oleh para pemimpin politik di Pentagon untuk mengevaluasi apakah semua peran militer harus tetap terbuka bagi perempuan. Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, seperti Greg Pruitt dan Joey Amor, pengabdian istri mereka telah melampaui perdebatan politik tersebut.
Menjelang peringatan Memorial Day, kisah Ashley dan Nicole menjadi pengingat nyata akan keberanian prajurit perempuan yang kini berdiri di barisan terdepan pertahanan negara, memberikan pengorbanan tertinggi demi tugas yang mereka cintai. (Washington Post/I-2)
