
TREN para pejabat publik yang mulai aktif merekam dan membagikan dokumentasi keseharian kerja mereka di media sosial tengah memicu perhatian publik. Salah satu yang paling disorot adalah unggahan video aktivitas 24 jam Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya melalui akun @teddy_hq.
Dalam video tersebut, Teddy memperlihatkan rangkaian agenda yang padat, mulai dari persiapan pagi hari, perjalanan dinas ke luar kota, mendampingi rapat koordinasi bersama jajaran menteri, hingga baru tiba kembali di rumah pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.
Menanggapi fenomena ini, Pengamat Politik Hendri Satrio yang akrab disapa Hensa menilai, tayangan tersebut memberikan gambaran nyata kepada masyarakat bahwa realitas tugas seorang pejabat publik tidak semudah yang dibayangkan. Namun di sisi lain, kepatuhan dokumentasi ini tetap tidak menjadi jaminan kebal dari sentimen negatif publik.
“Enggak mudah jadi pejabat seperti Teddy. Sudah kerja dari pagi, ke luar kota, lanjut rapat sampai tengah malam, pulangnya dini hari, tapi tetap saja ada yang bergunjing. Ini realitas yang sering terjadi. Kerja keras itu tidak selalu terlihat sebagai sesuatu yang luar biasa, kadang malah dianggap biasa saja, bahkan dicurigai,” ujar Hensa melalui keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Hensa memandang, pembuatan konten dokumentasi harian seperti yang dilakukan Seskab Teddy sebenarnya bisa dimaknai positif sebagai format laporan kerja alternatif kepada publik. Transparansi ini membuka tabir aktivitas birokrasi yang selama ini jarang terakses oleh masyarakat umum.
“Kalau aktivitasnya sudah ditunjukkan seperti itu, publik jadi punya gambaran. Mau percaya atau tetap sinis, itu soal lain. Tapi setidaknya ada proses yang dibuka daripada sebelumnya hanya menebak-nebak tanpa dasar,” kata Hensa.
Meski demikian, pendiri lembaga survei KedaiKOPI ini menilai wajar apabila sebagian kelompok masyarakat tetap skeptis dan mencap video tersebut sebagai upaya pencitraan. Menurutnya, ada jurang pemisah antara apa yang dinilai oleh pejabat dan apa yang ditunggu oleh rakyat.
“Yang ditampilkan itu proses, rapat, perjalanan, aktivitas padat. Sementara publik biasanya menunggu hasil konkret. Jadi wajar kalau ada yang bilang ini pencitraan. Karena bagi publik, ukuran kerja itu bukan seberapa sibuk, tapi juga seberapa terasa dampaknya,” urai Hensa.
Lebih lanjut, Hensa menganalisis adanya dampak psikologis dan dinamika internal di lingkungan pemerintahan akibat kemunculan figur lincah yang terekspos seperti Seskab Teddy. Gaya komunikasi yang aktif dan terbuka ini secara tidak langsung menaikkan standar performa di mata pimpinan maupun masyarakat.
Kondisi ini, menurut Hensa, berpotensi memicu rasa kurang nyaman bagi oknum pejabat lain yang selama ini terbiasa bekerja di balik layar secara pasif atau kurang menunjukkan kinerja.
“Bisa jadi ada juga yang resah. Karena ketika ada yang terlihat sangat aktif, sangat lincah menyapa masyarakat, standar itu jadi naik. Yang lain jadi tidak bisa lagi terlalu santai. Kalau masih terlihat leha-leha, bukan tidak mungkin nanti ada catatan dari pimpinan,” ungkapnya.
Namun dalam konteks tata kelola pemerintahan, Hensa menilai kegelisahan itu berdampak positif karena menciptakan iklim kompetisi yang sehat. Pejabat yang sebelumnya kurang responsif kini dipaksa ikut bergerak menunjukkan kinerjanya agar tidak kalah pamor.
“Silakan saja kalau mau diikuti, terutama pejabat yang selama ini tidak kelihatan. Jadi publik tahu dia itu siapa, apa yang dikerjakan, dan programnya apa. Tapi tetap saja, ujungnya bukan di kontennya, melainkan di hasil nyata yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” pungkas Hensa. (H-2)
