
MASALAH berat badan berlebih makin serius di Indonesia, dengan 1 dari 3 orang dewasa mengalami obesitas dengan angka yang semakin meningkat tiap tahunnya.
Banyak yang menganggap hal tersebut hanya masalah penampilan, diabetes, atau risiko jantung. Padahal, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menetapkan obesitas sebagai karsinogen kelas 1, setingkat bahaya rokok dan asbes.
Data CDC dan National Cancer Institute menunjukkan obesitas memicu 4–8% kasus kanker baru dunia. Lemak berlebih dapat yang mempercepat kemunculan sel kanker hingga 10–15 tahun, membuatnya lebih agresif, dan memotong efektivitas kemoterapi sampai 40%.
5 Mekanisme Penyubur Sel Kanker
Kaitan obesitas dan kanker terletak pada aktivitas metabolik sel lemak (adiposa) yang aktif memproduksi hormon pemicu ketidakseimbangan biologis melalui lima mekanisme:
1. Lemak berlebih melepas sitokin pro-inflamasi (IL-6 dan TNF-α) yang merusak DNA sel sehat, menciptakan lingkungan ideal bagi tumor.
2. Obesitas memicu resistensi insulin. Lonjakan kadar insulin merangsang hormon IGF-1 yang mempercepat pembelahan sel kanker.
3. Sel lemak memproduksi estrogen. Kadar berlebih memicu proliferasi sel pada organ reproduksi, meningkatkan risiko kanker payudara, dinding rahim, dan ovarium.
4. Saat obesitas, hormon leptin naik dan adiponektin turun. Kondisi ini memicu angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru) yang memberi nutrisi pada tumor.
5. Lemak perut meningkatkan tekanan lambung, memicu GERD kronis. Paparan asam berulang mengubah sel kerongkongan menjadi pra-kanker (esophagus Barrett).
Kombinasi mekanisme ini menempatkan obesitas sebagai faktor risiko utama bagi 13 jenis kanker, termasuk kanker usus besar, lambung, ginjal, dan prostat.
Cara Mengetahui Apakah Anda Obesitas
Untuk mendeteksi apakah berat badan Anda sudah masuk dalam kategori berisiko, metode yang paling umum digunakan adalah Body Mass Index (BMI).
Pada orang dewasa, mereka bisa dikatakan memiliki berat badan berlebih apabila skor BMI-nya mencapai 25,0-29,9. Sedangkan, seseorang yang mengalami obesitas skor BMI-nya bisa mencapai 30 atau lebih.
Indeks Massa Tubuh (BMI) dihitung dengan cara membagi berat badan dalam satuan kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter (BMI = Kg/M^2).
Untuk cara yang lebih praktis, Anda bisa memanfaatkan berbagai layanan kalkulator BMI gratis yang tersedia di internet.
Cara Aman Turunkan Berat Badan
Riset Journal of the National Cancer Institute membuktikan pangkas berat badan menurunkan risiko kanker payudara, usus besar, dan ginjal. Menurunkan 5–10% berat badan bahkan mampu memotong risiko kanker hingga 30–50% karena menekan kadar insulin dan peradangan.
Untuk mencapai berat badan ideal secara aman tanpa membahayakan kesehatan, berikut langkah nyata yang bisa diterapkan:
– Atur Pola Makan: Batasi lemak jenuh dan gula tinggi. Cukup kurangi asupan maksimal 500 kkal per hari agar tubuh tidak lemas atau pusing.
– Perbanyak Serat: Tingkatkan konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian utuh guna menjaga rasa kenyang lebih lama.
– Hindari Alkohol: Batasi atau hentikan konsumsi alkohol karena mengandung kalori kosong yang merusak metabolisme.
– Aktif Bergerak: Targetkan aktivitas fisik sedang minimal 150 menit per minggu. Mulailah dari hal kecil seperti naik tangga atau berjalan kaki.
– Target Realistis: Hindari diet ekstrem dan obat pelangsing tanpa pengawasan medis. Penurunan aman berkisar 0,5 kg per minggu atau 2 kg per bulan. (Primaya Hospital, Murni Teguh Hospitals, Hello Sehat/P-3)
