
SEBUAH era keemasan dalam sejarah sepak bola Inggris resmi mendekati akhir. Pep Guardiola mengumumkan keputusannya untuk meninggalkan Manchester City pada akhir musim ini, menutup perjalanan satu dekade yang penuh dengan gelimang prestasi di Stadion Etihad.
Keputusan strategis ini menandai berakhirnya dominasi total The Citizens di bawah arahan pria asal Katalunya tersebut sejak 2016. Selama sepuluh tahun masa baktinya, Guardiola tidak hanya memberikan trofi, tetapi juga mengubah identitas permainan sepak bola di Inggris secara fundamental.
Perpisahan di Stadion Etihad
Laga melawan Aston Villa di Stadion Etihad yang dijadwalkan pada Minggu (24/5) akan menjadi momen emosional bagi para pendukung City. Pertandingan tersebut akan menjadi panggung terakhir bagi Guardiola untuk memimpin tim dari pinggir lapangan sebelum resmi menanggalkan jabatannya.
“Apa yang sudah kami lalui bersama sungguh luar biasa. Jangan tanya alasan saya pergi. Tidak ada alasan khusus, tetapi jauh di dalam hati saya tahu ini waktunya,” ujar Guardiola dalam pernyataan resminya.
Statistik Emas Pep Guardiola di Manchester City (2016-2026):
| Total Trofi | 20 Gelar |
| Liga Primer Inggris | 6 Gelar |
| Liga Champions UEFA | 1 Gelar (Pertama dalam sejarah klub) |
| Piala FA | 3 Gelar |
Warisan dan Pengaruh Global
Keberhasilan Guardiola membawa City keluar dari bayang-bayang rival sekota, Manchester United, didukung penuh oleh visi finansial pemilik klub asal Abu Dhabi. Namun, lebih dari sekadar dukungan dana, Guardiola membangun dinasti teknis yang sulit ditandingi. Gaya permainan berbasis penguasaan bola (possession-based) dan operan cepat racikannya kini menjadi standar baru di Liga Inggris.
Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, memberikan penghormatan tinggi bagi koleganya tersebut. “Pengaruhnya di setiap liga tempat dia melatih benar-benar unik. Dia salah satu pelatih terbaik dalam sejarah,” puji Tuchel.
Dampak Guardiola juga meluas melalui para asistennya yang kini sukses menjadi pelatih kepala, termasuk Mikel Arteta yang berhasil membawa Arsenal mengakhiri puasa gelar Liga Primer selama 22 tahun.
Masa Depan City dan Kandidat Pengganti
Meski mundur dari kursi pelatih, Guardiola dikabarkan tidak akan benar-benar meninggalkan keluarga besar City Football Group. Ia diproyeksikan akan mengemban peran baru sebagai duta global klub.
Terkait suksesi kepemimpinan di lapangan hijau, nama Enzo Maresca kini mencuat sebagai kandidat terkuat. Maresca, yang pernah menjadi asisten Guardiola, dinilai memiliki filosofi yang sejalan untuk mempertahankan standar tinggi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.
“Saya perlu bernapas sejenak dan menikmati hidup dengan lebih santai,” tutup Guardiola, menegaskan bahwa dirinya belum memiliki rencana untuk kembali melatih dalam waktu dekat setelah meninggalkan Manchester.
Chairman Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, dan pemilik klub, Sheikh Mansour, menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Guardiola yang telah menempatkan Manchester City di puncak peta sepak bola dunia. (AFP/Z-10)
