
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, terus mengintensifkan pendistribusian air bersih menyusul krisis air yang semakin meluas. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 20.957 Kepala Keluarga (KK) atau 66.782 jiwa terdampak kekeringan di 41 dari 69 kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Budi Martanova, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino tahun ini memicu penyusutan drastis pada sumur-sumur warga. Sebagai langkah penanganan, BPBD telah menyalurkan total 1.424.000 liter air bersih melalui 317 rit pengiriman ke 158 titik distribusi.
“Fenomena El Nino pada tahun ini semakin kering dan sudah mencakup 10 kecamatan. Pasokan air bersih yang diberikan mencapai 1.424.000 liter dilakukan guna meringankan beban masyarakat untuk kebutuhan minum, masak, cuci pakaian, hingga wudhu,” ujar Budi Martanova, Selasa (22/9/2026).
Budi menjelaskan, krisis air bersih kali ini tergolong parah karena mencakup lebih dari setengah jumlah kelurahan di Kota Tasikmalaya. Pendistribusian dilakukan setiap hari mengingat kondisi kekurangan air di beberapa lokasi sudah sangat kritis. Bantuan air bersih gratis ini tidak hanya menyasar pemukiman warga, tetapi juga fasilitas publik seperti pesantren, rumah sakit, sekolah, perbankan, hingga perkantoran.
“Pendistribusian air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD, tetapi berbagai pihak turut membantu agar air bisa dimanfaatkan sesuai peruntukannya,” tambahnya.
Kondisi di lapangan menggambarkan betapa sulitnya warga mengakses air bersih. Irwan (44), warga Kampung Situ Beet, Kecamatan Mangkubumi, mengaku sumur miliknya telah mengering selama hampir lima bulan terakhir. Ia menyebut kemarau tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang hanya mengandalkan bantuan dari BPBD dan sumber mata air dari perusahaan swasta sekitar. Krisis air ini sangat parah, bahkan untuk mandi saja keluarga kami harus sangat hemat, terkadang hanya mengandalkan dua galon air bantuan per hari,” pungkas Irwan. (H-2)
