
DI tengah udara sejuk selepas gerimis, aktivitas di BHK Farm, Desa Sukatani, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, tampak semakin sibuk menjelang Iduladha.
Muhammad Nasrullah, 32 tahun, hilir mudik melayani calon pembeli yang datang mencari sapi kurban premium. Siapa sangka, usaha peternakan yang kini memasok sapi jenis Limosin, Simmental, hingga Pegon itu berawal dari kandang sederhana dengan hanya tujuh ekor sapi.
Berkat ketekunan serta dukungan pembiayaan sebagai nasabah PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), usaha yang dirintis sejak 2018 tersebut kini berkembang menjadi salah satu pemasok sapi kurban premium di Bogor. Usaha penggemukan sapi itu bermula dari kebiasaan ayah Nasrullah yang setiap menjelang Iduladha mencari sapi untuk memenuhi permintaan pelanggan. Dari pengalaman tersebut, Nasrullah melihat peluang besar di bisnis penggemukan sapi dan mulai menekuninya secara serius.
“Dari situ saya melihat kebutuhan sapi kurban ternyata besar. Akhirnya saya coba mulai usaha penggemukan sapi sedikit demi sedikit,” kata Nasrullah saat ditemui Media Indonesia di peternakan BHK Farm pada pekan lalu.
Seiring meningkatnya permintaan, usaha Nasrullah mulai berkembang. Pada 2020, penjualannya mencapai 23 ekor sapi. Namun, di saat bersamaan ia mulai menghadapi kendala modal, terutama untuk kebutuhan pakan dan pengembangan kandang. Dari sanalah ia mengenal program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
“Ada yang menyarankan ambil KUR BRI. Lalu saya beranikan diri dan waktu itu saya pinjam Rp30 juta pada 2020,” ujarnya.
Proses KUR Mudah
Ia pertama kali mengajukan KUR pada 2020 melalui kantor cabang BRI Cimahpar. Menurut dia, proses pengajuan tergolong mudah selama usaha dijalankan secara konsisten dan pembayaran dilakukan lancar.
“Kalau dari segi gampang, kembali lagi ke kitanya. Kalau usaha konsisten dan pembayaran lancar, menurut saya lebih dari gampang,” katanya.
Pinjaman pertamanya sebesar Rp30 juta dengan tenor dua tahun bahkan berhasil dilunasi lebih cepat. Nasrullah mengaku sudah memiliki rencana untuk kembali menambah modal usaha sehingga memilih mempercepat pelunasan pinjaman.
“Belum selesai dua tahun tenor pinjaman saya sudah lunasin, karena dalam pikiran saya mau ada pengajuan lagi,” katanya sambil tersenyum. Setelah melihat perkembangan usahanya, pihak BRI disebut menawarkan plafon pinjaman yang lebih besar. Dari pengajuan Rp50 juta yang didapat, Nasrullah justru dinilai layak memperoleh pembiayaan hingga Rp200 juta karena kapasitas kandang dan arus usaha yang dinilai sehat.
“Karena mereka sudah lihat kapasitas kandang sapi dan pembayaran kami juga lancar,” ujarnya. Menurut Nasrullah, bunga KUR BRI juga relatif ringan dan membantu pelaku usaha kecil untuk berkembang.
“Sebetulnya enak pinjam KUR di BRI karena memang mudah. Bunganya juga kecil menurut saya tidak sampai 3%,” katanya.
Ia menilai keberadaan pembiayaan tersebut sangat berdampak terhadap keberlangsungan usahanya. “Jadi bisa menghidupi kita lah,” ucapnya.
Memperbesar Kapasitas
Di tengah meningkatnya kebutuhan sapi kurban menjelang Iduladha, usaha penggemukan sapi tersebut perlahan berkembang menjadi peternakan dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Perjalanan itu tak lepas dari akses pembiayaan KUR BRI yang menurutnya menjadi titik penting dalam pengembangan usaha.
Nasrullah menuturkan, tambahan modal dari KUR dimanfaatkan untuk membeli ternak, memperluas kandang, hingga meningkatkan kualitas perawatan sapi. Sebelum memperoleh pembiayaan, kapasitas usahanya masih terbatas dan jumlah ternak yang dipelihara belum banyak.
“Dulu jumlah ternak kami masih terbatas. Setelah dapat tambahan modal dari KUR BRI, kami bisa menambah kapasitas kandang dan membeli lebih banyak sapi dengan kualitas yang lebih baik,” ujar Nasrullah.
Tambahan modal itu kemudian benar-benar mengubah skala usahanya. Pada 2024, Nasrullah kembali mengajukan pinjaman untuk membangun kandang baru. Kapasitas kandang yang sebelumnya hanya mampu menampung sekitar 20 ekor sapi kini meningkat menjadi 50 ekor.
“Habis bangun kandang pada 2024, penjualan 2025 sudah mencapai 47 ekor. Memang sistem kami penggemukan, jadi sapi dibeli lalu dirawat sampai mendekati Iduladha,” jelasnya.
Omzet Meningkat
Ia mengaku omzet usaha meningkat drastis setelah mulai mendapatkan akses pembiayaan dan manajemen usaha menjadi lebih tertata. “Sesudah kenal BRI, usaha mulai terbentuk dan lebih teratur. Omzet juga naik lebih drastis,” katanya.
Menurutnya, modal usaha memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan peternak membeli bibit sapi maupun memenuhi kebutuhan operasional. Dengan pinjaman Rp30 juta misalnya, ia bisa membeli dua ekor sapi untuk digemukkan dan dijual kembali dengan margin keuntungan yang cukup besar.
“Kalau uang Rp30 juta dimasukkan ke sapi, dalam satu tahun keuntungan bersih bisa sekitar Rp20 juta. Modal balik, keuntungan juga dapat,” ujarnya.
Penjualan Tinggi
Saat ini, Nasrullah fokus pada tiga jenis sapi, yakni Limosin, Simmental, dan sapi Pegon. Harga sapi yang dipasarkan berkisar Rp24 juta hingga Rp45 juta per ekor, tergantung ukuran dan kualitas.
“Jadi kami mendapat keuntungan yang cukup besar,” terangnya.
Namun, keuntungan tersebut tetap harus dipotong biaya pakan dan operasional harian. “Itu tetapi masih kotor, dipotong pakan,” ucapnya.
Risiko Usaha
Meski demikian, perjalanan usaha peternakan tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku pernah mengalami kerugian akibat sapi sakit, patah kaki, hingga mati setelah dibeli dari pasar.
“Kalau kaki sapi patah, yang tadinya bisa dijual Rp30 juta mungkin jadinya Rp15 juta. Ada juga yang mati, beli Rp20 juta langsung dikubur,” katanya.
Namun, Nasrullah menganggap berbagai kerugian tersebut sebagai bagian dari proses belajar dalam menjalankan usaha peternakan. “Kalau ada yang mati atau sakit sampai rugi, mungkin itu kuliah buat saya,” ujarnya.
Untuk operasional harian, biaya pakan sapi mencapai sekitar Rp26 ribu per ekor per hari. Dengan sekitar 40 ekor sapi yang dirawat selama tujuh hingga delapan bulan masa penggemukan, ia kini dibantu dua pekerja kandang dan satu pencari rumput.
Hati-Hati PMK
Saat ini, di kandangnya terdapat sekitar 42 ekor sapi. Namun jumlah sebenarnya bisa lebih banyak karena sebagian ternak masih dititipkan di peternak lokal untuk mengantisipasi penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Terkait PMK, sapi yang kami datangkan tidak semua dibawa ke kandang, sebagian masih di petani. Kalau dikumpulkan totalnya lebih dari 50 ekor,” terang Nasrullah.
Ia mengaku pernah menghadapi berbagai risiko dalam usaha peternakan, mulai dari sapi sakit, kaki patah, hingga kematian ternak. Kerugian besar pun pernah ia alami.
“Pernah beli sapi Rp20 juta, baru datang langsung mati dan harus dikubur. Ada juga yang kakinya patah jadi harus dipotong, padahal sudah digemukkan,” tuturnya.
Meski demikian, ia menganggap setiap kerugian sebagai bagian dari proses belajar membangun usaha.
“Kalau ada sapi sakit atau rugi, itu saya anggap kuliah buat belajar,” katanya.
Pengalaman menghadapi PMK juga menjadi pelajaran penting baginya. Saat wabah merebak beberapa tahun lalu, ia memilih lebih selektif dalam membeli sapi dan lebih mengandalkan peternak lokal dibanding mengambil ternak dari pasar luar daerah.
“Sekarang saya lebih hati-hati. Kalau kandang sudah penuh, saya enggak berani asal ambil sapi dari pasar. Kami lebih banyak ambil dari petani sekitar Sukatani,” ujarnya.
Menurut Nasrullah, menjaga kualitas menjadi kunci utama mempertahankan pelanggan, terutama menjelang musim kurban. Ia memastikan perawatan sapi dilakukan secara konsisten, mulai dari kebersihan kandang hingga pola pemberian pakan.
“Yang kami takutkan itu bukan saingan, tapi kualitas turun. Kalau kualitas jatuh, pelanggan bisa hilang,” katanya.
Di kandangnya, sapi diberi pakan dua kali sehari secara teratur, terdiri dari ampas tahu, konsentrat, onggok, garam mineral, hingga hijauan seperti rumput dan daun jagung. Untuk seekor sapi, biaya pakan mencapai sekitar Rp26 ribu per hari.
Saat ini, BHK Farm mempekerjakan tiga orang pekerja untuk mengurus puluhan sapi yang dipelihara selama tujuh hingga delapan bulan masa penggemukan.
Antusiasme Pembeli
Di antara para pembeli itu, Amira datang bersama suami dan anaknya untuk melihat langsung sapi-sapi kurban di BHK Farm.
Perhatian mereka tertuju pada sapi jenis Pegon yang dikenal memiliki postur tegap dan bobot yang cukup besar. Sang anak tampak antusias menunjuk beberapa sapi yang dianggap paling besar, sementara ayah Amira beberapa kali berdiskusi dengan peternak mengenai bobot dan perawatan hewan.
Amira sendiri terlihat teliti memperhatikan kondisi fisik sapi, mulai dari kebersihan kandang hingga kesehatan ternak yang dipamerkan di area penggemukan. Amira mengaku sengaja datang lebih awal menjelang Iduladha agar memiliki lebih banyak pilihan sebelum stok sapi terbaik habis dipesan pembeli lain. Menurutnya, kualitas perawatan di BHK Farm menjadi alasan dirinya kembali datang mencari hewan kurban di tempat tersebut.
“Kalau beli lebih awal bisa lebih leluasa memilih. Tadi kami lihat sapi Pegonnya bagus-bagus dan perawatannya juga terlihat terjaga,” ujar Amira.
Ia mengatakan, memilih sapi kurban bukan hanya soal ukuran, tetapi juga memastikan kondisi hewan sehat dan dirawat dengan baik. Karena itu, dirinya memilih datang langsung ke kandang untuk melihat proses pemeliharaan sapi sebelum memutuskan membeli.
“Kalau datang langsung kan jadi lebih yakin. Kita bisa lihat sendiri kondisi sapinya, makannya, sampai kebersihan kandangnya,” tuturnya. Peluang Besar
Direktur BUM-Des Cahaya Mandiri Sukatani Ejang Ahmad Rusidin mengatakan, BUM-Des yang baru berdiri pada 2025 itu awalnya fokus pada sektor ketahanan pangan melalui usaha hidroponik. Pilihan tersebut diambil karena dinilai lebih mudah dikelola dan sesuai dengan kemampuan pengurus maupun warga desa.
Memasuki 2026, BUM-Des mulai melihat peluang baru di sektor peternakan sapi. Melalui BHK Farm, mereka mencoba mengembangkan usaha penggemukan sapi jantan yang dipersiapkan khusus untuk kebutuhan kurban menjelang Iduladha.
“Kami melihat ada peluang besar dari bisnis penggemukan sapi BHK Farm,” kata Ejang.
Menurutnya, permintaan sapi kurban terus meningkat setiap tahun, sementara ketersediaan stok di pasaran masih terbatas. Kondisi tersebut membuat pihaknya lebih sering mengalami kekurangan pasokan dibanding kekurangan pembeli.
“Karena memang pasar juga terbilang sudah banyak. Kita lebih cenderung kekurangan barang jual,” ujarnya.
Saat ini, BHK Farm menjadi salah satu usaha peternakan yang mulai berkembang di wilayah RW 5 Sukatani. Meski masih dalam tahap pengembangan, Ejang berharap kapasitas usaha tersebut dapat terus bertambah seiring meningkatnya dukungan permodalan.
“Harapannya ingin lebih banyak lagi, dan tentunya kalau lebih banyak sapi, banyak juga orang-orang yang kita ajak untuk bekerja,” katanya.
Ejang mengakui, keterbatasan modal masih menjadi tantangan utama dalam memperbesar kapasitas peternakan. Menurut dia, tambahan dukungan permodalan akan sangat membantu untuk meningkatkan jumlah ternak yang dipelihara sekaligus memperluas usaha. Meski demikian, ia menegaskan tujuan utama pengembangan BHK Farm bukan semata mencari keuntungan, melainkan menciptakan manfaat ekonomi bersama bagi masyarakat desa.
“Yang penting kita sebetulnya enggak ingin memperkaya diri sendiri, yang penting kita ingin bareng-bareng,” ucapnya.
Dalam menjalankan usaha tersebut, BUM-Des berperan sebagai pengawas sekaligus membantu dukungan permodalan dan promosi. Untuk pemasaran, mereka memanfaatkan media sosial, meski promosi dari mulut ke mulut masih menjadi cara efektif untuk menjangkau calon pembeli.
Buka Peluang Kerja
Keberadaan BHK Farm turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, termasuk masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang terbatas. Ejang mengatakan pekerjaan di sektor peternakan relatif mudah dipelajari, sehingga masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan.
“Meski pendidikannya sederhana, kalau untuk merawat masih bisa dilakukan. Yang penting ada kegiatan dan pemasukan juga untuk dia,” pungkasnya.
Ia menilai pengembangan usaha peternakan desa tidak hanya soal keuntungan bisnis, tetapi juga menjadi upaya memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri secara ekonomi. Dengan semakin berkembangnya usaha peternakan tersebut, pihaknya berharap penyerapan tenaga kerja lokal juga dapat terus meningkat. (E-4)
