
PERKEMBANGAN teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin memengaruhi kehidupan manusia. Teknologi ini digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari seperti menulis, berbelanja, dan mencari informasi.
Remaja pun menjadi kelompok yang paling dekat dengan perkembangan tersebut. Banyak pelajar mulai menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas sekolah, belajar coding, hingga mencari referensi belajar. Namun, sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa tidak semua siswa menghadapi perkembangan AI dengan tingkat kepercayaan diri yang sama.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cogent Education mengungkap bahwa siswa laki-laki cenderung lebih percaya diri dalam mempelajari dan menggunakan AI dibandingkan siswa perempuan.
Riset tersebut dipimpin oleh Dr. Zubair Ahmad dari Qatar University Young Scientists Center. Tim peneliti melibatkan 743 siswa sekolah menengah atas berusia 15 hingga 18 tahun yang mempelajari komputer dan teknologi informasi di Qatar.
Para siswa berasal dari berbagai latar belakang, termasuk Qatar, Asia, dan Afrika. Mereka diminta menjawab 35 pertanyaan mengenai tingkat kepercayaan diri terhadap AI, dukungan dari sekolah, serta hasil belajar yang mereka capai.
Kepercayaan Diri Berpengaruh pada Hasil Belajar
Dalam penelitian tersebut, peneliti menemukan bahwa siswa yang yakin terhadap kemampuan mereka dalam mempelajari AI cenderung memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
“Kami menemukan bahwa siswa yang percaya pada kemampuan mereka untuk mempelajari dan menggunakan AI biasanya memiliki hasil yang lebih baik dalam bidang tersebut. Hubungan antara rasa percaya diri dan hasil belajar ini jauh lebih kuat pada siswa laki-laki dibanding perempuan,” ujar Dr. Ahmad.
Menurutnya, rasa percaya diri menjadi faktor penting karena pembelajaran AI sangat bergantung pada proses mencoba, bereksperimen, dan memperbaiki kesalahan. Siswa yang merasa yakin dengan kemampuannya biasanya lebih berani mencoba berbagai alat AI, menguji perintah, serta mencari solusi ketika mengalami kesulitan. Sebaliknya, siswa yang takut melakukan kesalahan cenderung menghindari tantangan dan lebih pasif saat pembelajaran berlangsung.
AI Masih Dianggap Bidang yang Didominasi Laki-laki
Penelitian tersebut juga menyoroti adanya pandangan bahwa teknologi dan AI merupakan bidang yang identik dengan laki-laki. Kondisi ini dinilai memengaruhi kepercayaan diri siswa perempuan sejak awal.
“Teknologi dan AI sering dianggap sebagai bidang yang didominasi laki-laki. Hal ini dapat memengaruhi keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka sendiri dan keterlibatan mereka dalam pelajaran,” kata Dr. Ahmad.
Ia menjelaskan bahwa siswi perempuan kemungkinan menjadi kurang percaya diri atau enggan bereksperimen menggunakan alat AI karena stereotip tersebut.
Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Qatar. Berbagai penelitian di United States, Europe, dan Asia juga menunjukkan bahwa perempuan sering kali memiliki tingkat kepercayaan diri lebih rendah dalam bidang ilmu komputer dan teknik, meskipun nilai akademik mereka tidak berbeda jauh dengan laki-laki.
Para ahli menilai faktor seperti stereotip sosial, ekspektasi lingkungan, dan minimnya representasi perempuan di dunia teknologi ikut memperbesar kesenjangan tersebut.
Selain rasa percaya diri, penelitian itu juga menemukan bahwa dukungan dari sekolah dan guru memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan siswa dalam mempelajari AI.
Dukungan tersebut meliputi kegiatan praktik langsung, bimbingan guru, hingga akses terhadap materi pembelajaran yang memadai. Namun, dampak positif dari dukungan sekolah kembali terlihat lebih kuat pada siswa laki-laki.
Karena itu, para peneliti mendorong sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif bagi siswi perempuan.
“Sekolah perlu memberikan dukungan lebih besar kepada perempuan,” ujar Dr. Ahmad.
Menurutnya, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghadirkan lebih banyak figur perempuan di bidang AI sebagai panutan bagi para siswa. Selain itu, guru juga dinilai perlu menciptakan suasana kelas yang nyaman agar seluruh siswa merasa didukung secara setara.
Sumber: Earth.com
