
NILAI tukar rupiah yang melemah hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS dinilai tidak hanya dipengaruhi sentimen jangka pendek. Pelemahan tersebut juga mencerminkan kombinasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurrahman, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu penguatan dolar AS di tengah tingginya suku bunga global, ketidakpastian geopolitik, serta arus keluar modal dari negara berkembang.
“Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.600 per dolar AS mencerminkan tekanan global dan domestik yang terjadi bersamaan. Dari eksternal, dolar AS masih sangat kuat akibat suku bunga tinggi global, ketidakpastian geopolitik, dan capital outflow dari emerging markets,” kata Rizal saat dihubungi, Jumat (15/5).
Menurut dia, dari sisi domestik pasar mulai mencermati sejumlah faktor fundamental, mulai dari kredibilitas fiskal pemerintah, kebutuhan pembiayaan utang yang besar, hingga tren penurunan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN).
“Jadi tekanan rupiah saat ini bukan sekadar sentimen sesaat, tetapi sudah mulai mencerminkan kekhawatiran fundamental,” terang dia.
Rizal menilai pelemahan rupiah berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional karena Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor pangan, energi, dan bahan baku industri. Menurut dia, depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya impor sehingga memicu imported inflation dan menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah.
“Industri manufaktur juga berisiko menghadapi kenaikan biaya produksi yang dapat menekan ekspansi usaha dan investasi,” tegas dia.
Dalam menghadapi tekanan tersebut, Rizal menilai Bank Indonesia (BI) perlu tetap agresif menjaga stabilitas pasar keuangan melalui intervensi di pasar valuta asing, instrumen Domestic Non–Deliverable Forward (DNDF), serta stabilisasi pasar SBN. Namun demikian, langkah tersebut dinilai belum cukup apabila tekanan terhadap rupiah terus meningkat.
“BI juga perlu membuka ruang kenaikan suku bunga apabila tekanan terus meningkat untuk menjaga daya tarik aset domestik,” ungkap Rizal.
Di sisi lain, pemerintah dinilai perlu menjaga kredibilitas fiskal dan memperkuat kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) guna memperkuat pasokan valas domestik. Selain itu, Rizal menilai bahwa upaya mengurangi ketergantungan impor juga dianggap penting agar rupiah tidak terus rentan terhadap gejolak ekonomi global.
“Pemerintah harus menjaga kredibilitas fiskal, memperkuat DHE SDA, dan mengurangi ketergantungan impor agar rupiah tidak terus rentan terhadap gejolak global,” tandasnya. (E-4)
