
DI tengah berkecamuknya konflik di Timur Tengah dan ketegangan yang terus membayangi Selat Taiwan, pertemuan dua pemimpin kekuatan besar dunia di Beijing pekan ini menyajikan narasi yang tak terduga. Alih-alih hanya membahas isu kontemporer, Presiden Tiongkok Xi Jinping justru menarik sejarah kuno ke dalam meja diplomasi.
Dalam pembukaan pertemuan pada Kamis (14/05/2026), Xi Jinping merujuk pada Perang Peloponnesos di Yunani kuno, konflik berkepanjangan antara Athena dan Sparta yang meletus pada 431 SM. Referensi ini bukan sekadar pelajaran sejarah, melainkan peringatan strategis bagi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Xi Jinping melontarkan pertanyaan retoris yang tajam, “Dapatkah Tiongkok dan Amerika Serikat melampaui apa yang disebut sebagai Jebakan Thucydides’dan membentuk paradigma baru bagi hubungan kekuatan besar?”
Istilah Jebakan Thucydides (Thucydides Trap) merujuk pada teori hubungan internasional yang menyatakan bahwa ketika kekuatan baru yang sedang bangkit (Tiongkok) mengancam untuk menggeser kekuatan dominan yang sudah mapan (AS), perang sering kali menjadi hasil yang tak terelakkan. Teori ini diambil dari tulisan sejarawan Thucydides, “Adalah kebangkitan Athena dan ketakutan yang ditimbulkannya pada Sparta yang membuat perang tidak bisa dihindari.”
Peringatan Keras Soal Taiwan: Xi Jinping menegaskan bahwa masalah Taiwan adalah isu paling krusial dalam hubungan bilateral. Ia memperingatkan bahwa kesalahan langkah sekecil apa pun terkait Taiwan dapat mendorong kedua negara ke dalam konflik fisik yang membahayakan stabilitas global.
Antara Retorika Konflik dan Rekonsiliasi
Meski memberikan peringatan keras di siang hari, Xi Jinping menunjukkan nada yang lebih lunak saat perjamuan kenegaraan di malam hari. Ia menyatakan bahwa ambisi kedua negara sebenarnya bisa berjalan beriringan.
“Pencapaian peremajaan besar bangsa Tiongkok dan upaya membuat Amerika hebat lagi (Make America Great Again) sepenuhnya dapat berjalan seiring dan memajukan kesejahteraan seluruh dunia,” ujar Xi.
Respons Donald Trump
Menanggapi referensi sejarah tersebut, Presiden Donald Trump memberikan komentar melalui media sosial pada Jumat pagi. Trump menafsirkan referensi Xi tentang kekuatan yang mapan sebagai sindiran halus terhadap kondisi Amerika Serikat.
“Xi merujuk dengan sangat elegan bahwa Amerika Serikat mungkin merupakan negara yang sedang menurun,” tulis Trump. Namun, ia segera membela posisinya dengan menambahkan, “Dua tahun lalu, kita memang negara yang sedang menurun. Sekarang, Amerika Serikat adalah negara paling hebat di dunia, dan semoga hubungan kita dengan Tiongkok akan lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya!”
Pertemuan ini menandai babak baru dalam rivalitas hegemonik abad ke-21. Diplomasi tidak lagi hanya soal angka perdagangan, tetapi juga tentang bagaimana dua raksasa dunia menghindari kutukan sejarah yang telah berusia ribuan tahun. (I-2)
| Poin Utama Pertemuan | Detail |
|---|---|
| Fokus Utama | Menghindari Jebakan Thucydides (Perang antara kekuatan lama vs baru). |
| Isu Taiwan | Garis merah bagi Tiongkok; kesalahan penanganan dapat memicu konflik. |
| Visi Bersama | Menyelaraskan Peremajaan Tiongkok dengan agenda MAGA AS. |
