
MENIRU pilihan teman dalam hal mainan atau tren gaya hidup selama ini dianggap sebagai karakteristik khas manusia. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa perilaku “ikut-ikutan” ini juga dilakukan oleh kakatua liar. Burung-burung cerdas ini ternyata belajar mencoba sumber makanan baru dengan meniru rekan-rekan mereka.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Biology, menunjukkan kemampuan beradaptasi ini sangat krusial bagi hewan yang hidup di lingkungan perkotaan. Di tengah lanskap kota yang terus berubah, hewan sering kali menemui sumber daya yang tidak biasa, seperti pohon eksotis hingga tanaman invasif.
Eksperimen Kacang Berwarna
Para peneliti dari Australia, Jerman, Amerika Serikat, dan Swiss mengamati lebih dari 700 kakatua koki (sulphur-crested cockatoos) di lima komunitas di Sydney. Awalnya, burung-burung ini sangat ragu mencoba makanan asing karena risiko keracunan atau parasit.
Tim peneliti kemudian melatih beberapa individu untuk memakan kacang almond yang telah diberi warna merah dan biru. Setelah melihat individu yang terlatih memakan kacang tersebut, anggota komunitas lainnya mulai ikut mencoba hanya dalam hitungan menit. Di satu komunitas yang tidak memiliki burung terlatih, kakatua butuh waktu empat hari untuk berani mencoba. Namun, begitu satu individu memulai, 15 kakatua lainnya langsung ikut serta dalam waktu kurang dari 10 menit.
Kakatua Muda yang “Konformis”
Penelitian ini juga mengungkap fakta menarik tentang dinamika sosial mereka. Peneliti menemukan adanya bias jenis kelamin, di mana pejantan lebih cenderung memengaruhi sesama pejantan. Sementara itu, kakatua betina lebih fleksibel dalam menerima informasi sosial dari siapa pun tanpa memandang usia atau jenis kelamin.
Julia Penndorf, penulis utama studi dan ekolog perilaku dari University of Exeter, menyoroti kemiripan perilaku burung muda dengan anak-anak manusia.
“Mungkin yang lebih menarik adalah kakatua muda sangat konformis, dan akan meniru pilihan mayoritas. Hal ini cukup lucu untuk dilihat karena tren yang sama juga terlihat pada anak-anak manusia,” ujar Penndorf.
Penndorf menambahkan bahwa bagi kakatua muda yang sering berpindah tempat, meniru apa yang dilakukan penduduk lokal sangat penting untuk mempelajari peluang baru yang aman dengan cepat.
Kunci Sukses di Perkotaan
Kemampuan untuk terus memperbarui pengetahuan berdasarkan tindakan individu lain dianggap sebagai kunci sukses kakatua dalam bertahan hidup di wilayah perkotaan Australia. Michael Chimento, peneliti dari University of Zurich, menyamakan perilaku ini dengan situasi manusia di restoran.
“Kakatua yang lebih muda (lebih dari kakatua tua) terus memperbarui pengetahuan mereka, dan mungkin mengubah preferensi mereka berdasarkan apa yang dilakukan orang lain. Ini seperti bagaimana kita, pada saat itu, mungkin mengubah pesanan kita di restoran tergantung pada apa yang dipesan teman-teman kita,” jelas Chimento.
Studi ini membuka kemungkinan bahwa kecenderungan konformis atau keinginan untuk “ikut-ikutan” ini berubah sepanjang masa hidup, mencapai puncaknya pada tahap perkembangan saat individu sangat butuh memperoleh pengetahuan lokal dengan cepat. (CNN/Z-2)
