
Virus hanta kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius yang berlayar menuju Tenerife, Spanyol, terinfeksi virus tersebut. Dalam insiden itu, tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi yang ditimbulkan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong, Rio Yansen Cikutra, menjelaskan bahwa virus hanta merupakan kelompok virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, khususnya tikus. Infeksi ini diketahui dapat memicu gangguan serius pada organ paru-paru hingga ginjal.
“Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi,” kata Rio dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (13/5).
Menurut Rio, penularan virus juga bisa terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan sarang tikus atau permukaan yang telah terkontaminasi, lalu menyentuh bagian wajah seperti hidung, mata, maupun mulut.
Virus hanta diketahui dapat memicu dua jenis sindrom utama pada manusia, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berdampak pada ginjal dan pembuluh darah.
Secara medis, gejala virus hanta biasanya berkembang dalam dua fase. Pada tahap awal, penderita umumnya mengalami demam, sakit kepala berat, nyeri otot terutama di area punggung dan paha, serta tubuh terasa lemas. Keluhan tersebut juga dapat disertai gangguan pencernaan seperti sakit perut, muntah, hingga diare.
Ketika memasuki fase lanjutan, kondisi pasien bisa memburuk dengan munculnya gangguan pernapasan berat berupa batuk dan sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Selain itu, penderita juga berisiko mengalami jaundice, penurunan tekanan darah drastis hingga syok, serta penurunan fungsi ginjal.
Untuk mengurangi risiko penularan virus hanta, masyarakat diimbau menghindari area dengan populasi tikus tinggi, terutama ruangan tertutup yang lama tidak dibersihkan seperti gudang, loteng, maupun bangunan kosong.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga dianjurkan menutup celah atau lubang di rumah agar tikus tidak masuk. Pembersihan area berdebu sebaiknya dilakukan menggunakan metode pel basah guna mencegah partikel berbahaya beterbangan dan terhirup. Sanitasi lingkungan serta pengelolaan sampah yang baik juga menjadi langkah penting dalam pencegahan.
Kelompok pekerja di sektor pertanian dan perkebunan, serta individu yang sering beraktivitas di alam terbuka seperti berkemah, disebut memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus karena lebih sering bersentuhan dengan habitat alami hewan pengerat.
“Jika Anda mulai merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar dr. Rio.
Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Margareth Aryani Santoso, MARS menegaskan pentingnya penanganan medis cepat dalam menghadapi ancaman penyakit menular, termasuk virus hanta.
“Kami berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas. Melalui ketersediaan fasilitas ruang isolasi yang modern dan tim medis yang kompeten, Bethsaida Hospital siap menjadi garda terdepan dalam menangani berbagai tantangan kesehatan masyarakat, termasuk risiko penyakit infeksi seperti Hantavirus,” katanya. (Ant/E-4)
