Setelah 178 Tahun, DNA Ungkap Identitas 4 Pelaut Ekspedisi Arktik yang Hilang
Dr. Douglas Stenton menggali tulang-tulang para pelaut ekspedisi Franklin di Teluk Erebus pada tahun 2013.(Universitas Waterloo)

MISTERI tragis ekspedisi Arktik abad ke-19 yang dipimpin Sir John Franklin perlahan mulai menemui titik terang. Para peneliti dari University of Waterloo dan Lakehead University, Kanada, berhasil mengidentifikasi sisa-sisa jasad empat awak kapal melalui pencocokan DNA dengan keturunan mereka yang masih hidup.

Ekspedisi Franklin yang dimulai pada 1845 bertujuan menemukan Jalur Barat Laut (Northwest Passage). Namun, dua kapal mereka, HMS Erebus dan HMS Terror, terjebak dalam es selama dua tahun. Sebanyak 129 kru akhirnya meninggalkan kapal pada April 1848 dalam upaya putus asa untuk menyelamatkan diri, tetapi tidak ada satu pun yang selamat.

Pencocokan DNA dengan Keturunan

Identifikasi ini melibatkan proses yang sangat rumit karena kerangka yang ditemukan di Pulau King William tersebar dalam kondisi tidak utuh. Tim peneliti membandingkan materi genetik dari sisa-sisa tulang dan gigi dengan sampel DNA dari para keturunan pelaut tersebut.

Tiga anggota awak dari kapal HMS Erebus yang berhasil diidentifikasi adalah William Orren, David Young, dan John Bridgens. Menariknya, salah satu keturunan yang teridentifikasi adalah Rich Preston, seorang jurnalis BBC News, yang baru mengetahui bahwa Bridgens adalah paman buyutnya setelah dihubungi oleh tim peneliti.

“Ini adalah kejutan total,” ujar Preston. “Mengetahui bahwa salah satu leluhur langsung saya terlibat dalam misi yang sangat terkenal dan memicu begitu banyak riset selama bertahun-tahun adalah hal yang sangat menarik.”

Kasus Salah Identitas Harry Peglar

Identifikasi keempat memberikan jawaban atas misteri “salah identitas” yang membingungkan peneliti selama 166 tahun. Jasad Harry Peglar dari kapal HMS Terror ditemukan pada 1859 mengenakan seragam pelayan (steward) kelas rendah, padahal ia secara resmi menjabat sebagai Captain of the Foretop (bintara yang mengawasi layar).

Banyak peneliti sebelumnya menduga jasad tersebut adalah orang lain yang membawa dokumen Peglar. Namun, analisis genetik memastikan jasad itu memang milik Peglar. Pakar menduga ia diturunkan pangkatnya karena perilaku buruk, seperti mabuk atau tindakan pembangkangan, sebelum akhirnya menemui ajal di Kutub Utara.

Memberi Wajah pada Sejarah

Dr. Douglas Stenton, pemimpin penelitian ini, menyatakan riset genetik ini membuka babak baru dalam sejarah ekspedisi Franklin.

“Kami mencoba menambahkan lebih banyak kepingan pada teka-teki ini. Babak baru ini membantu ditulis oleh keluarga dari para pria yang tidak pernah pulang,” kata Stenton.

Melalui riset ini, para pelaut tersebut kini memiliki “wajah”. John Bridgens, misalnya, digambarkan sebagai pria bermata hazel dan berambut gelap yang memulai karier pelautnya sebagai musisi pada usia 11 tahun. Sementara David Young bergabung dalam ekspedisi pada usia 17 tahun untuk keluar dari kemiskinan.

Identifikasi ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi keluarga keturunan dan membawa peneliti lebih dekat untuk memahami alasan sebenarnya di balik keputusan kru meninggalkan kapal mereka dalam tragedi maritim paling misterius di dunia tersebut. (CNN/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *