
BERDIRI dari kursi mungkin terasa seperti aktivitas otomatis yang dilakukan tanpa berpikir. Namun, bagi para ilmuwan, gerakan sederhana ini merupakan sinyal kuat bagi kesehatan masa depan seseorang. Kemampuan untuk bangkit dari posisi duduk ternyata berkaitan erat dengan risiko jatuh, patah tulang, hingga peluang bertahan hidup di masa tua.
Sebuah studi jangka panjang dari University of Castilla-La Mancha menggeser perspektif dunia medis mengenai penuaan. Fokus utama kini bukan lagi sekadar pada massa otot, melainkan pada daya otot (muscle power).
Daya Otot Lebih Penting daripada Kekuatan
Selama ini, dokter sering berfokus pada hilangnya massa otot atau sarcopenia. Namun, riset ini menunjukkan bahwa daya otot jauh lebih krusial. Perbedaannya terletak pada kecepatan: kekuatan adalah seberapa besar beban yang bisa Anda dorong, sedangkan daya adalah seberapa cepat Anda menggunakan kekuatan tersebut.
Daya otot diketahui menurun lebih awal daripada kekuatan fisik, dimulai sejak usia 30 tahun dan melonjak setelah usia 65 tahun. Hal ini memengaruhi cara seseorang merespons lingkungan, seperti kemampuan menyeimbangkan tubuh saat hampir terjatuh.
Tes 30 Detik yang Menentukan
Peneliti menggunakan metode sederhana: tes duduk-ke-berdiri selama 30 detik. Peserta diminta berdiri dan duduk sebanyak mungkin dalam waktu setengah menit dengan tangan bersilang di dada.
Melibatkan hampir 1.900 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas, hasil studi ini cukup mengejutkan. Sebanyak 57% peserta memiliki daya otot yang rendah, bahkan angkanya mencapai 61% pada kelompok perempuan. Banyak lansia yang tidak menyadari mereka sudah berada dalam zona risiko.
Risiko Jatuh, Patah Tulang, dan Kematian
Dampak dari rendahnya daya otot ini sangat nyata dan berbahaya:
- Risiko Jatuh pada Pria: Pria dengan daya otot rendah memiliki risiko 73% lebih tinggi untuk jatuh dan 86 persen lebih mungkin mengalami patah tulang.
- Patah Tulang Pinggul pada perempuan: Perempuan dengan daya otot rendah berisiko tiga kali lebih besar mengalami patah tulang pinggul, yang sering kali menjadi pemicu disabilitas permanen.
- Rawat Inap Lebih Lama: Pasien dengan daya otot rendah rata-rata menghabiskan waktu 4 hari di rumah sakit, jauh lebih lama dibandingkan mereka yang memiliki daya otot normal (2,5 hari).
Temuan paling mencolok berkaitan dengan kelangsungan hidup. Risiko kematian meningkat 57 persen pada pria dengan daya otot rendah, dan meningkat dua kali lipat pada wanita.
Solusi Sederhana untuk Masa Depan
Berita baiknya, daya otot dapat ditingkatkan melalui latihan yang tepat. Program latihan yang menggabungkan latihan beban dengan gerakan cepat terkontrol dapat membantu memperbaiki respon otot.
Tes ini sangat direkomendasikan karena kesederhanaannya; hanya butuh kursi dan pengukur waktu. Dengan identifikasi dini, penurunan kualitas hidup akibat penuaan dapat diperlambat, memastikan masa tua yang lebih mandiri dan sehat.
Studi komprehensif ini telah diterbitkan dalam Journal of Sport and Health Science. (Earth/Z-2)
