
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pemerintah menyiapkan langkah intervensi di pasar obligasi (bond market) menyusul pelemahan nilai tukar rupiah hari ini (12/5) menyentuh level Rp17.515 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (12/5).
Langkah tersebut dilakukan melalui Bond Stabilization Fund (BSF), yakni dana khusus yang digunakan untuk menjaga stabilitas pasar surat utang dan mengendalikan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.
Melalui instrumen tersebut, pemerintah atau lembaga terkait dapat melakukan pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN) di pasar atau buyback bond ketika tekanan jual meningkat. Langkah itu dilakukan untuk menahan kenaikan yield obligasi sekaligus mencegah arus keluar investor asing yang dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah.
“Besok (13/5) kita akan mulai membantu dengan masuk ke bond market, seperti Bond Stabilization Fund (BSF). Kita masih banyak uang anggur, kita intervention bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5).
Menurut Purbaya, kenaikan yield yang terlalu tinggi dapat memicu kerugian investasi (capital loss) bagi investor asing yang memegang obligasi pemerintah Indonesia. Kondisi itu dikhawatirkan dapat mendorong investor keluar dari pasar domestik.
“Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asing enggak keluar, atau malah masuk kalau yield-nya membaik, sehingga rupiah akan menguat,” tegasnya.
Ia menegaskan pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melakukan stabilisasi pasar. Meski demikian, pemerintah belum akan mengaktifkan seluruh dana BSF yang tersedia.
“Besok mulai jalan, tapi belum fund semuanya kita aktifkan,” ujar bendahara negara.
Purbaya juga memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih relatif aman meski nilai tukar rupiah bergerak di atas asumsi APBN 2025 yang sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Menurut Purbaya, pemerintah sebelumnya telah menghitung skenario pelemahan rupiah di atas asumsi dasar APBN sehingga kondisi saat ini masih dapat diantisipasi.
“Pada waktu kita hitung itu, asumsinya (rupiah) sudah di atas asumsi APBN rupiahnya. Jadi APBN-nya masih relatif aman. Tapi kita akan kendalikan nilai tukar, kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa,” katanya
Terkait upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, Purbaya menegaskan peran utama tetap berada di tangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
“Anda mesti tanya bank sentral. Tugas bank sentral hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana, di Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik,” ucapnya. (H-4)
