
CUACA Kota Mekah, Arab Saudi, mulai memanas. Dalam tiga hari terakhir, suhu bahkan sudah mencapai 41 derajat celsius. Di pagi hari, suhu mencapai 28 derajat celsius, lalu perlahan naik menjadi 37 derajat celsius.
Untuk mengantisipasi cuaca ekstrem tersebut, jemaah haji Kloter 03 JKS yang berasal dari Kabupaten Bogor mulai melaksanakan kegiatan rangkaian haji di pagi hari. Seperti pagi ini, jemaah yang tergabung dalam KBIHU Daarul Istiqamah melaksanakan kegiatan umrah sunah dengan mengambil miqat di Masjid Aisiyah di kawasan Tan’im.
Ketua Kloter JKS 03 Ade Irawan mengatakan, sehubungan cuaca Kota Mekah mulai panas jemaah diimbau untuk beraktivitas di jam-jam yang suhunya rendah, terutama di pagi hari.
“Untuk kegiatan ibadah jemaah, terutama untuk umrah sunah, kami sepakat Kloter 3 menjalankannya di pagi atau malam hari,” kata Ade.
Tak hanya itu, pria yang akrab disapa Gus Hai ini menjelaskan, selain cuaca panas yang sebaiknya diwaspadai jemaah, pengamanan Kota Mekah yang mulai ketat juga harus jadi perhatian. Hampir setiap jemaah yang datang atau akan masuk Mekah pasti diperiksa kelengkapan identitas mereka.
“Karena itu, kartu Nusuk harus selalu dikalungkan di leher, agar bila sewaktu-waktu ada pemeriksaan, jemaah tidak kena masalah,” papar Ade.
Aparat keamanan di Kota Mekah terus memperketat arus masuk menuju Kota Suci itu. Di setiap jalan menuju Kota Mekah, apalagi hendak memasuki Masjidil Haram, mereka memeriksa secara acak identitas jemaah dari berbagai negara.
Dalam kesempatan tertentu, polisi menghentikan bus jemaah lalu masuk ke dapam bus untuk memindai satu per satu Kartu Nusuk milik jemaah.
Untuk seluruh jemaah haji asal Kabupaten Bogor, sejauh ini imbauan itu dilaksanakan dengan kepatuhan tinggi. Dua kloter asal Kabupaten Bogor, yakni JKS 03 dan JKS 07 ditempatkan di hotel yang bersebelahan di kawasan Misfalah.
“Kondisi jemaah alhamdulillah sehat. Minta doanya dari warga Kabupaten Bogor agar kita semua sehat dan bisa melaksanakan puncak haji 25 Mei mendatang. Minta doanya, ya,” ujar Ade Irawan di sela-sela hendak mengambil miqat di Masjid Aisyah di Tan’im.
Masjid Aisyah di kawasan Tan’im dijadikan salah satu tempat miqat umrah bagi orang yang sudah berada di Kota Mekah karena berkaitan langsung dengan peristiwa pada masa Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah binti Abu Bakar.
Peristiwanya terjadi saat Haji Wada’ tahun 10 Hijriah. Ketika rombongan selesai menunaikan haji, Aisyah merasa sedih karena mengalami haid sebelum sempat menyelesaikan umrah secara terpisah sebagaimana jemaah lain.
Melihat itu, Nabi Muhammad lalu meminta saudara kandung Aisyah, Abdurrahman bin Abu Bakar, untuk menemani Aisyah keluar dari wilayah Tanah Haram menuju Tan’im untuk mengambil miqat dari sana, lalu berihram untuk umrah.
Karena itulah Tan’im kemudian dikenal sebagai tempat miqat bagi penduduk Mekah atau orang yang sudah berada di Mekah tetapi ingin melakukan umrah lagi. Tempat itu menjadi titik terdekat di luar batas Tanah Haram dari Masjidil Haram.
Secara fikih, orang yang ingin umrah harus memulai ihram dari luar wilayah Haram. Sedangkan jamaah yang sudah berada di Mekah berada di dalam kawasan Haram, sehingga mereka harus keluar terlebih dahulu ke daerah Hill (luar Haram).
Tan’im adalah lokasi terdekat dan paling mudah dijangkau. Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadis sahih, di antaranya dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Kini, di lokasi itu berdiri Masjid Aisyah yang sangat populer sebagai tempat mengambil miqat umrah bagi jamaah yang sudah berada di Mekah. Jarak menuju tempat itu sekitar 7–8 km dari Masjidil Haram. (E-4)
