
“Ketika ingin merebut kembali Baitul Maqdis, Shalahuddin Al-Ayyubi membiarkan kerajaan-kerajaan Salibis eksis sementara waktu di Palestina dan Syam. Pahlawan Islam itu justru memulai langkah pertama penakhlukannya dengan menghancurkan musuh dalam selimut yang merongrong Islam dari dalam yaitu Daulah Syiah Fathimiyah yang berkuasa di Mesir.” Benarkah narasi itu?
Menurut Ustaz Taufik M Yusuf Njong dalam akunnya di Facebook dilansir situs web Pesantren Bina Insan Kamil, diksi di atas jamak dideskripsikan oleh banyak masyaikh Salafiyah atau Wahabiah (ortodoks dan kontemporer dengan segala varietasnya) ketika menarasikan penaklukan Mesir oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Tak hanya masyaikh Salafiyah, narasi yang sama juga digaungkan oleh sebagian masyaikh harakah islamiyah dan para aktivis-aktivisnya, terutama mereka yang hidup di negara-negara yang mengalami benturan langsung dengan sekte Syiah.
Namun, apakah diksi dan narasi berbau sektarian tersebut sepenuhnya sesuai dengan hakekat sejarah tanpa framing dan tanpa bersikap masa bodoh dengan sebagian fakta sejarah lain? Ataukah diksi tersebut sejatinya hanyalah memori kolektif yang bias lalu dibiarkan berkembang dari satu generasi ke generasi yang lain? Atau jangan-jangan hal itu justru ditulis oleh sejarawan yang sedikit banyak memiliki keberpihakan dan bertujuan membangun identitas kelompok, mazhab, bangsa, serta membuat garis batas antar entitas tersebut sekalipun garis batas tersebut kadang terkesan dibuat-buat?
“Sebagai contoh, ketika hampir semua sejarawan Suni memuji dan mengagungkan kepahlawanan Shalahuddin hingga mendekati pengultusan, sebagian sejarawan Syiah justru menganggap Shalahuddin adalah pribadi licik yang mengkhianati Khalifah Fathimiyah Al-‘Adhid Li Dinillah yang mengangkatnya menjadi menteri di Mesir. Oleh sebagian sejarawan Syiah kontemporer, Shalahuddin yang dituduh membakar kitab-kitab di perpustakaan Dinasti Fathimiyah bahkan dijuluki dengan Hulagu-ddin Al-Ayyubi,” tutur Taufik.
Kritik terhadap Shalahuddin tidak hanya dilakukan oleh sejarawan Syiah, Ibnu Atsir yang hidup di masa pemerintahan Dinasti Zankiyah dan Dinasti Ayyubiyah ialah salah satu sejarawan Suni yang mengkritisi dengan keras sikap Shalahuddin Al-Ayyubi. Ibnu Atsir (di samping pujiannya terhadap Shalahuddin) mengkritik keras sikap pendiri Daulah Ayyubiyah itu yang memerangi para penguasa Dinasti Zankiyah/Zengid Dynasty (anak-anak dan saudara Nuruddin Az-Zanki) selama 7 tahun yang menjadi salah satu sebab penting terhapusnya dinasti itu dari panggung sejarah.
Padahal Shalahuddin dan karier militernya ‘dibesarkan’ oleh Nuruddin yang oleh sebagian sejarawan (termasuk Dr Ali As-Shallaby) dianggap sebagai pemimpin terbaik setelah Umar bin Abdul Aziz. Ibnu Atsir yang dianggap terlalu loyal kepada Dinasti Zankiyah juga mengritik sikap Shalahuddin yang terlampau toleran dengan kerajaan-kerajaan Salib di Palestina dan Syam.
Jika Salafiyah menampilkan Shalahuddin dalam diksi seorang Salafi yang berjihad di atas Kitab dan Sunah serta berhasil meruntuhkan Daulah Syiah Bathiniyah di Mesir (cek tulisan Dr Safar Al-Hawaly, At-Tawathu’ Ar-Rafidhy Wa Al-Bathiniy Ma’a As-Shalibiyyin Liihtilal Bait Al-Maqdis, dalam situs webnya), memori kolektif yang berkembang di Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) tentang Shalahuddin ialah penonjolannya sebagai seorang tokoh Aswaja yang berakidah Asyari, bermazhab Syafii, dan bertarekat Sufi yang berhasil mengembalikan Mesir ke pangkuan Suni dan mengubah Al-Azhar menjadi mercusuar ilmu Ahlussunah.
Setidaknya, demikianlah kesaksian Ibnu Syaddad dan Imam As-Suyuthi dalam karya-karyanya. Begitulah secara umum sejarah ditulis dan kadang dipengaruhi oleh bias subjektif penulisnya lalu berkembang menjadi memori kolektif dari generasi ke generasi.
Namun faktanya sebagai berikut. Al-‘Adhid Li Dinillah dibaiat menjadi khalifah saat masih berusia 11 tahun dan belum baligh. Sementara dinasti Fathimiyah berada di fasenya yang sangat lemah sehingga kekuasaan secara de facto dipegang oleh para menteri dan diperebutkan di antara mereka, khususnya antara Shawar As-Sa’diy dan Dhargham Al-Lakhmi.
Baca juga: TGB Zainul Majdi Dukung Iran Lawan Zionis Suara Kemanusiaan dan Agama
Dhargham berkoalisi dengan pasukan Salib untuk menghabisi saingannya. Shawar meminta bantuan Nuruddin Az-Zanki dari Syam untuk menyelamatkan kekuasaannya. Pada tahun 559 H, Nuruddin mengirim ekspedisi pertama pasukan Syam di bawah pimpinan Asaduddin Syirkuh, paman dari Shalahuddin Al-Ayyubi. Asaduddin ikut menyertakan keponakannya dalam ekspedisi ini meskipun Shalahuddin sedikit enggan.
Setelah membantu mengalahkan Dhargham, Shawar justru main mata dengan pasukan salib dan balik mengusir pasukan Syam dari Mesir hingga mereka terpaksa menarik diri kembali ke Damaskus. Pengkhianatan ini membuat Nuruddin Az-Zanki kembali mengirimkan ekspedisi kedua ke Mesir di bawah pimpinan Asaduddin dan keponakannya.
Perang pun terjadi antara pasukan Syam melawan pasukan salib yang berkoalisi dengan Shawar dan berakhir dengan gencatan senjata. Pasukan Syam kembali menarik diri dari Mesir tahun 562 H.
Baca juga: TGB Zainul Majdi Ajak Perkuat Ukhuwah Islamiyah Suni-Syiah
Dua tahun kemudian, pasukan salib yang berang dengan Shawar–karena tidak membayar upeti–berencana menaklukkan Mesir secara total. Saat itu, Khalifah Fathimiyah Al-‘Adhid Li Dinillah memutuskan meminta bantuan Nuruddin Az-Zanki untuk kembali mengirimkan pasukannya ke Mesir.
Asaduddin dan Shalahuddin kembali berangkat dalam ekspedisi ketiga ke Mesir untuk berjihad bersama pasukan Syiah Fathimiyah melawan tentara salib. Siasat licik Shawar yang sering bermain mata dengan pasukan salib membuat Asaduddin kemudian menangkapnya dan atas perintah Al-‘Adhid Li Dinillah, Shawar dihukum mati dan Asaduddin diangkat menjadi menteri Kekhalifahan Fathimiyah di Mesir.
Tak lama setelah itu, Asaduddin wafat dan Al-‘Adhid mengangkat Shalahuddin sebagai menterinya. Sejak saat itu, Shalahuddin berkuasa secara de facto di Mesir.
Baca juga: Syekhul Azhar Kaitkan Soal Palestina dengan Suni-Syiah
Ketika Shalahuddin berhasil menguasai Mesir dan Nuruddin Az-Zanki memintanya untuk mengubah doa khotbah Jumat dengan mendoakan Khalifah Abbasiyah sebagai ganti doa untuk Al-‘Adhid, Shalahuddin menolaknya dan berdalih hal tersebut akan menimbulkan kekacauan di Mesir. Ia menunggu sampai Al-‘Adhid sakit parah, barulah ia menjalankan titah Nuruddin.
Namun, setelah Al-‘Adhid meninggal, Shalahuddin menyesal dengan keputusannya itu. Andai ia tahu bahwa Al-‘Adhid akan mati karena sakitnya tersebut, sungguh dia tidak akan meminta para khatib Jumat untuk mengubah doa dengan mendoakan Khalifah Abbasiyah sebagaimana diceritakan Abu Syamah.
Kesetiaan Shalahuddin terhadap Al-‘Adhid Li Dinillah juga dibuktikan ketika khalifah terakhir dinasti Fathimiyah itu meninggal di usia muda. Shalahuddin ikut berbelasungkawa atas kematiannya. Ia menangis dan turut mengantar Al-‘Adhid ke kuburannya. Shalahuddin juga menjalankan wasiat Al-‘Adhid untuk melindungi dan memuliakan anak-anak dan keluarganya.
Baca juga: Uttar Pradesh Tunjuk Pimpinan Dewan Wakaf Pusat Suni dan Syiah
Begitulah toleransi Shalahuddin Al-Ayyubi saat berinteraksi dengan Syiah Fathimiyah di Mesir. Sebagai seorang pengikut Mazhab Syafii dan dekat dengan era Al-Ghazali yang menjatuhkan vonis keras terhadap Syiah Bathiniyah dengan segala jenisnya, sepertinya tidak tersembunyi bagi Shalahuddin kerusakan-kerusakan Dinasti Fathimiyah (Ubaidiyin) yang bahkan menganggap pengajian Shahih Bukhari sebagai suatu kegiatan yang melanggar hukum.
Namun Shalahuddin menyikapinya dengan bijak. Ia tidak membunuh atau memerangi seseorang karena orang tersebut Syiah atau Suni. Akan tetapi Shalahuddin menindak dengan tegas siapapun yang merintangi jalannya mempersatukan kekuatan umat Islam. Ini karena, menurutnya, hanya itu jalan untuk kembali merebut Baitul Maqdis dari tangan pasukan salib.
Shalahuddin juga mengakhiri kekuasaan Al-‘Adhid dan keturunannya. Pasalnya, memang pemerintahannya tak lebih dari pemerintahan boneka korup yang tidak mampu melindungi umat Islam di Mesir dari serangan-serangan pasukan salib.
Baca juga: Sepak Terjang Hizbullah terkait Israel, Syiah-Suni, dan Pemerintahan Libanon
Benar bahwa Shalahudin memerangi Syiah seperti Shawar yang berkhianat dan bersekongkol dengan pasukan salib hanya demi melanggengkan kekuasaannya. Namun, jangan lupa tentang fakta lain bahwa Shalahudin juga memerangi Umarah Al-Yamani, seorang ahli fikih mazhab Syafii. Sejarawan dan sastrawan Suni itu dihukum mati oleh Shalahuddin karena mencoba mengudeta kekuasaannya dengan berkonspirasi dengan pasukan salib.
Jangan kesampingkan juga fakta bahwa Shalahuddin memerangi penguasa Zankiyah yang Suni (anak-anak Nuruddin Az-Zanki dan saudaranya). Ini karena perebutan kekuasaan di antara mereka dianggap memecah belah umat islam dan menjadi batu sandungan penyatuan kekuatan umat Islam untuk merebut kembali Baitul Maqdis.
Sebaliknya, menurut seorang penjelajah Andalus yang semasa dengan Shalahuddin, Ibnu Jubair, mayoritas penduduk Damaskus dan Aleppo di era perang salib ialah penganut Syiah Imamiyah dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pasukan Shalahuddin Al-Ayyubi saat menaklukkan Al-Quds.
Baca juga: Iran Tangkap Tiga Tersangka Pembunuhan Ulama Suni
Perlu juga dicatat bahwa sejarawan pertama yang menulis tentang Shalahuddin yaitu Yahya ibn Thay Al-Halaby ialah seorang Syiah yang sangat loyal kepada dinasti Ayyubiyah. “Saya membayangkan seandainya Shalahuddin bukan seorang Asyari yang berhati-hati mengafirkan ahlul kiblat (sebagaimana hal tersebut menjadi salah satu prinsip penting dalam madrasah Asyairah) dan ternyata Shalahuddin seorang Salafi ekstrem yang gencar membidahkan para Sufi dan mengafirkan Syiah secara mutlak, mungkin akan sulit bagi Shalahuddin untuk menyatukan umat dan merebut kembali Al-Quds. Wallahu a’lam,” papar Taufik.
Memori kolektif ialah fondasi penting bagi identitas suatu agama, bangsa, masyarakat, ataupun komunitas. Namun, jika memori kolektif ini terdistorsi, ia akan melahirkan identitas yang keliru, umat yang gagal menentukan prioritasnya, gagal memetakan dan mendeskripsikan musuhnya yang sebenarnya. Mereka lalu sibuk berperang dengan ‘diri sendiri’ di kondisi-kondisi darurat yang seharusnya disikapi dengan bijak dan matang serta jauh dari bias sektarian.
Sikap hikmah Shalahuddin yang mau berjihad satu barisan dengan Syiah Fathimiyah di Mesir merupakan sikap yang selayaknya diteladani oleh setiap orang yang mendambakan kembalinya Al-Quds ke pangkuan umat Islam. Shalahuddin Al-Ayyubi memahami dengan baik ajaran Islam terhadap sekte Syiah bahkan terhadap Syiah Ismailiyah yang sangat jauh dari ajaran Islam. “Maka, sejatinya yang dilakukan oleh para pejuang Palestina hari ini dalam berinteraksi dengan sekte Syiah Imamiyah merupakan sikap yang sangat proporsional jika kita mau belajar dari pemimpin besar Shalahuddin Al-Ayyubi,” tuturnya.
Baca juga: Putra Mahkota Saudi Bicara tentang Iran, Korupsi, Suni-Syiah
Sikap proporsional terutama dalam kondisi darurat ini tidak berarti bahwa kita mengingkari ada pribadi-pribadi pengkhianat dari kelompok Syiah ataupun Suni yang menjadi penyebab kejatuhan umat Islam. Kejatuhan Baitul Maqdis di abad pertengahan, misalnya, keputusan gubernur Fathimiyah, Iftikhar Ad-Daulah, yang memutuskan hijrah dari Al-Quds dengan alasan tidak imbangnya antara pasukan Islam dan pasukan salib lalu menyerahkan Al-Quds ke pasukan salib merupakan keputusan fatal yang sangat disayangkan. Naifnya, sikap seperti ini hari ini digaungkan kembali oleh sebagian orang yang membenci Syiah setengah mati dan berlindung di bawah bendera Salafiyah.
Namun kita juga tidak boleh melupakan bahwa kekuatan Suni yang diwakili oleh Dinasti Abbasiyah (yang larut dalam sikap hedonisnya) serta para penguasa Dinasti Seljuk (yang saling berkonflik) juga merupakan pihak paling bertanggung jawab terhadap kejatuhan Al-Quds. Kita tidak boleh mengesampingkan bahwa selama 40 hari, Fathimiyah Syiah pernah ikut berdarah-darah mempertahankan Al-Quds. Begitu juga 20 hari pascajatuhnya Al-Quds, pasukan Fathimiyah bertempur sampai titik darah penghabisan melawan tentara salib dalam pertempuran Asqelon meskipun akhirnya mereka menderita kekalahan.
Dalam kejatuhan Al-Quds di era kontemporer, dari sebelum Nakbah sampai hari ini, deretan pengkhianatan dari penguasa-penguasa Suni Arab merupakan pengkhianatan yang sangat terang benderang bagi mereka yang mau mempelajari sejarah. “Merupakan hal yang sedikit memalukan ketika kita mengkritik Iran, Hizbullah, dan proksi mereka karena tidak menyerang Israel dan menganggap konfrontasi mereka dengan Israel hanya sebatas gimik belaka. Di sisi lain, kita bungkam dengan para pengkhianat dari negara-negara Suni Arab yang berbatasan langsung atau sangat dekat dengan Palestina yang terjajah tetapi mereka justru bermesraan dengan penjajah dan ikut mencekik serta menikam para pejuang dari depan dan belakang,” tandasnya. (I-2)
