
KEPALA Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan perlu pengecekan lanjutan pada anak yang diduga mengalami tekanan darah tinggi berdasarkan temuan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah.
“Saya sedang cek lagi. Apakah benar hipertensi atau peningkatan tekanan darah. Mesti diukur ulang lagi untuk memastikan,” kata Aji saat dikonfirmasi, Rabu (6/5).
“Karena temuan CKG istilahnya ada peningkatan tekanan darah, tidak disebutkan hipertensi,” sambungnya.
Berdasarkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) menjelaskan bahwa pada kelompok anak, pemeriksaan tekanan darah pada CKG tidak menunjukkan interpretasi TDT (Tekanan Darah Tinggi/Hipertensi), tetapi hanya Tekanan Darah (TD) meningkat berdasarkan hasil 1 kali pemeriksaan tekanan darah dengan cut off >=120/80.
Pengukuran awal hanya skrining awal mereka yang terdeteksi ini harus dilakukan pemeriksaan pengukuran TD kedua dan ketiga.
Hasil pengukuran TD pada anak di sekolah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama usia, jenis kelamin, dan tinggi badan.
Selain faktor individu anak, hasil pengukuran juga dipengaruhi oleh aspek teknis, seperti posisi tubuh saat pemeriksaan, ukuran manset yang digunakan, serta kemungkinan terjadinya white coat hypertension.
Hipertensi primer pada anak sangat jarang terjadi; sekitar 95% kasus hipertensi anak berkaitan dengan penyakit ginjal (hipertensi sekunder). Oleh karena itu, anak dengan hipertensi perlu dirujuk ke Puskesmas untuk skrining lanjutan, khususnya fungsi ginjal.
Pada remaja, peningkatan TD sementara terutama sistolik dapat bersifat fisiologis dan tidak selalu memerlukan terapi farmakologis, cukup dengan pemantauan berkala. (Iam)
