75 Tahun Jadi 'Pajangan', Fosil di Museum Ini Ternyata Spesies Baru Kerabat Buaya
Eosphorosuchus lacrimosa (kiri) dan Hesperosuchus agilis (kanan) di dekat bangkai Coelophysis di lokasi yang kelak menjadi Ghost Ranch, New Mexico.(Dok Julio Lacerda)

SELAMA lebih dari tujuh dekade, sebuah balok batu berisi tulang-belulang purba yang tersimpan di koleksi Museum Peabody Yale ternyata merupakan spesies yang belum teridentifikasi. 

Fosil yang digali dari Ghost Ranch, New Mexico, pada tahun 1948 ini awalnya dianggap sebagai spesimen biasa dari spesies Hesperosuchus agilis yang sudah dikenal. 

Namun, teknologi modern dan ketelitian para peneliti baru-baru ini mengungkap rahasia yang mengejutkan. Fosil tersebut ternyata adalah spesies baru yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya, sebuah penemuan yang memberikan gambaran tentang bagaimana kerabat awal buaya mulai mendominasi ekosistem jauh sebelum kejayaan dinosaurus.

Penemuan ini bermula dari rasa penasaran Bhart-Anjan Bhullar, seorang paleontolog Yale sekaligus penulis senior studi ini, yang telah lama mengamati fosil tersebut. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda pada struktur wajah spesimen yang ada di Yale jika dibandingkan dengan Hesperosuchus lainnya dari situs yang sama. 

Melalui teknologi CT scan, Miranda Margulis-Ohnuma, seorang mahasiswa doktoral di Yale, berhasil membedah fosil tersebut secara digital tulang demi tulang tanpa merusaknya. 

Hasilnya menunjukkan perbedaan anatomi yang signifikan pada bentuk kepala dan kekuatan rahang, yang akhirnya membuat tim peneliti menamai spesies baru ini Eosphorosuchus lacrimosa.

Dua Sepupu yang Terkubur Bersamaan

Apa yang membuat penemuan ini begitu luar biasa adalah kenyataan bahwa Eosphorosuchus lacrimosa ditemukan mati berdampingan dengan sepupunya, Hesperosuchus agilis. 

Sekitar 210 juta tahun yang lalu, di tepi sungai yang lembap, kedua hewan ini kemungkinan besar sedang berinteraksi atau bersaing memperebutkan sumber daya sebelum sebuah bencana mendadak, seperti banjir bandang atau tanah longsor, mengubur mereka hidup-hidup di saat yang bersamaan. 

“Kedua individu ini harus bersaing dan berinteraksi satu sama lain. Mereka kemungkinan besar sedang saling memandang satu sama lain ketika mereka mati,” ungka Bhart-Anjan Bhullar

Meskipun keduanya adalah kerabat dekat, mereka memiliki peran ekologis yang berbeda untuk menjaga harmoni di lingkungan mereka. 

Hesperosuchus agilis memiliki moncong panjang dan tubuh yang gesit untuk berburu di tepi sungai, sementara Eosphorosuchus lacrimosa memiliki moncong yang lebih pendek dan struktur tengkorak yang lebih kokoh untuk gigitan yang lebih kuat terhadap mangsa yang lebih besar. 

Perbedaan ini menunjukkan bahwa evolusi kerabat buaya saat itu sangat kaya dan adaptif, layaknya peran rubah atau anjing di masa modern.

Evolusi Besar-besaran Reptil

Pada periode Trias akhir tersebut, dunia reptil sedang berada dalam tahap eksperimen yang menakjubkan. 

Berbeda dengan gambaran populer tentang dinosaurus raksasa, dinosaurus pada masa itu justru digambarkan oleh Bhullar sebagai hewan berkaki dua yang langsing dan halus, hampir mirip dengan burung bangau. 

Di sisi lain, garis keturunan buaya sedang bereksperimen dengan rencana tubuh yang berbeda, yakni predator berkaki empat yang cepat, lebih berat, dan lebih rendah. Penemuan Eosphorosuchus ini menjadi bukti penting bahwa perbedaan fungsi dalam garis keturunan buaya sudah dimulai sejak dini. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *