
WAKIL Ketua MPR, Lestari Moerdijat, memperingatkan bahwa Indonesia harus siap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang dari biasanya. Hal ini semakin diperburuk dengan fenomena El Nino yang dikenal dengan julukan “El Nino Godzilla” karena intensitasnya yang luar biasa.
Lestari menjelaskan bahwa perubahan iklim, yang kini lebih tepat disebut krisis iklim, telah menciptakan berbagai anomali yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Sebelumnya, BMKG mengeluarkan imbauan kepada warga Jabodetabek agar mulai mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau.
“Kita tidak lagi menyebutnya sebagai climate change, tapi sekarang kita sudah berada dalam masa krisis iklim yang menciptakan perubahan pola yang tak terduga, yang langsung berdampak pada kehidupan sehari-hari,” ujar Lestari dalam forum diskusi Denpasar 12, Rabu (15/4).
Lestari mengingatkan bahwa musim kemarau dan El Nino adalah dua fenomena yang berbeda dan tidak boleh disamakan. Namun, keduanya diperkirakan akan terjadi bersamaan pada tahun ini, sehingga dampaknya lebih besar. BMKG mencatat sejumlah wilayah yang akan terdampak lebih awal, seperti pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, serta Maluku dan Papua pada pertengahan tahun.
Lestari menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk mengurangi dampak kekeringan dan risiko kebakaran hutan yang seringkali mengikutinya. Ia juga menyoroti urgensi edukasi publik agar masyarakat bisa memahami informasi cuaca dengan benar tanpa menimbulkan kepanikan.
“Yang terpenting adalah memberikan edukasi kepada masyarakat agar mereka dapat memahami informasi ini dengan bijak tanpa menebarkan ketakutan,” tegasnya. (Z-10)
