
Menjalankan visi dan misi secara konsisten selama 50 tahun bukanlah perkara mudah bagi sebuah perusahaan. Namun, Binawan Group berhasil membuktikan eksistensinya hingga hari ini dengan tetap berpegang teguh pada komitmen membantu masyarakat Indonesia mendapatkan kehidupan yang lebih baik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
CEO Binawan Group, Said Saleh Alwaini, mengungkapkan bahwa fondasi perusahaan ini diletakkan oleh ayahnya, Saleh Alwani, setengah abad silam. Saleh Alwani dikenal sebagai salah satu pencetus lahirnya Balai Latihan Kerja (BLK) bagi para pekerja migran Indonesia agar memiliki keahlian sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
“Industri ini dibangun awalnya oleh ayah saya 50 tahun lalu. Basis besarnya saat itu penempatan ke Timur Tengah dan Malaysia. Pada masanya, mayoritas tenaga kerja Indonesia masih low skill, sehingga jabatan yang diisi pun terbatas pada sektor tersebut,” ujar Said saat menerima audiensi Media Indonesia, Jumat (28/8).
Keberanian Shifting ke Sektor Profesional
Sebagai pelopor jasa tenaga kerja, Binawan mengambil langkah berani pada awal 1990-an. Di tengah membludaknya penempatan Pekerja Rumah Tangga (PRT) ke Arab Saudi yang memicu persaingan tidak sehat dan penurunan kualitas pelatihan, Saleh Alwani memilih untuk menarik diri dari pasar tersebut.
“Ayah saya di tahun 90-an itu punya keberanian yang dianggap ‘gila’ oleh rekan-rekannya. Saat industri mulai banting harga dan mengabaikan kualitas pelatihan serta screening pemberi kerja, beliau merasa ini sudah tidak sesuai hati nurani. Akhirnya, Binawan shifting ke skill profesional dan merintisnya dari nol,” jelas Said.
Keputusan visioner tersebut kini membuahkan hasil. Binawan Group telah berkembang menjadi entitas dengan 7 pilar usaha, termasuk mendirikan Binawan University. Hingga saat ini, perusahaan telah mengirimkan lebih dari 131 ribu tenaga kerja profesional Indonesia ke pasar internasional.
Belajar dari Model Vietnam
Said, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati), menekankan bahwa bekerja di luar negeri bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan proses belajar. Ia mencontohkan Vietnam yang berhasil memanfaatkan tenaga kerja luar negeri untuk membangun industri domestik.
“Lihat Vietnam. Beberapa tahun lalu mereka gencar mengirim orang ke luar negeri. Sekarang, saat investasi asing masuk, mereka memanggil pulang warganya yang sudah memiliki skill internasional hasil praktik langsung di lapangan tanpa biaya pemerintah. Tidak ada salahnya bekerja di luar negeri untuk kemudian membangun negeri sendiri,” tambahnya.
Menjaga Legasi dan Visi Non-Kapitalis
CMO Binawan Group, Kristin Tan, menegaskan bahwa perjalanan 50 tahun ini merupakan pengingat untuk terus menjaga legasi Saleh Alwani agar perusahaan tidak terjebak dalam pola pikir kapitalis semata.
“Keuntungan yang dihasilkan ujung-ujungnya digunakan untuk membangun dan membesarkan fasilitas pelatihan bagi talenta-talenta muda agar bisa menjemput impian di luar negeri, yang pada akhirnya kembali untuk membangun ekonomi di daerah masing-masing,” tegas Kristin.
Senada dengan hal tersebut, Vice President Binawan Inti Utama, Adrie P. Nelwan, menyatakan bahwa Binawan tetap konsisten memperkenalkan kompetensi Indonesia di mata dunia. Selain fokus di Timur Tengah, Binawan mulai merambah pasar Eropa.
“Kami tetap concern di training center. Kami mulai menggali potensi di Eropa dan telah berhasil mengirimkan 70 tenaga profesional ke Belanda. Intinya, kami terus memperjuangkan nama Indonesia di kancah internasional melalui tenaga kerja berkualitas,” pungkas Adrie.
