
SEKELOMPOK warga Suku Anak Dalam (SAD) atau yang dikenal sebagai Orang Rimba kembali terlibat aksi kekerasan di areal perkebunan kelapa sawit PT Sari Aditya Loka (SAL), anak perusahaan PT Astra Agro Lestari, di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.
Aksi yang terekam dalam video dan viral di jejaring sosial tersebut terjadi pada Jumat siang (28/8). Dalam rekaman itu, puluhan warga SAD menyerang beberapa pria berseragam loreng TNI yang diduga tengah menjalankan tugas Bawah Kendali Operasi (BKO) pengamanan di sekitar areal perusahaan.
Meski mendapatkan serangan berupa pukulan, tendangan, hingga ancaman senjata tajam, lima anggota TNI yang berada di lokasi terlihat tidak melakukan perlawanan. Mereka berupaya menghindar dan meminta warga untuk menahan diri. Namun, akibat desakan massa, seorang anggota TNI sempat terjungkal ke dalam semak dan menjadi sasaran amukan sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh rekan-rekannya.
Danrem 042/Garuda Putih, Brigjen TNI Nyamin, membenarkan insiden tersebut. Ia menyatakan bahwa situasi saat ini telah terkendali.
“Betul Mas, kejadiannya kemarin (Jumat). Kondisi sudah aman dan kondusif,” ungkap Nyamin singkat saat dikonfirmasi, Sabtu (29/8).
Senada dengan Danrem, Kabid Humas Polda Jambi Kombes Erlan Munaji dan Kapolres Sarolangun Ajun Komisaris Besar Wendi Oktariansyah menyatakan bahwa situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Desa Bukit Suban sudah kembali kondusif. Saat ini, kasus kekerasan tersebut tengah ditangani oleh jajaran Polres Sarolangun.
Akar Persoalan Harus Diungkap
Menanggapi insiden ini, aktivis senior Jambi sekaligus Direktur Perkumpulan Hijau Jambi, Fery Irawan, menyayangkan kekerasan tersebut. Ia menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan secara hukum.
“Kita tidak membenarkan kekerasan dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun. Itu bertentangan dengan hukum yang berlaku di republik ini,” tegas Fery.
Fery, yang memiliki kedekatan dengan banyak pimpinan kelompok SAD, menduga ada masalah komunikasi yang tersumbat di lapangan sehingga memicu ketegangan. Ia mendesak pihak berwenang untuk mengusut tuntas akar persoalan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Mungkin ada hal yang tidak terkomunikasikan dengan baik. Yang lebih penting itu membongkar penyebab kejadian ini, akar persoalannya harus diungkap secara jelas dan tegas,” pungkasnya. (I-2)
