PWNU Jatim Usulkan Aswaja Center Jadi Lembaga Resmi di Muktamar Ke-35 NU
Pengunjung melihat karya lukis bertajuk 25 Kiai Muassis NU dalam pameran lukisan kolosal di Pondok Pesantren Al Wahabiyyah 1 dan Al Lathifiyyah 2 Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Selasa (25/8/2026).(Antara/Syaiful Arif)

PENGURUS Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur secara resmi mengusulkan agar Aswaja Center NU ditingkatkan statusnya menjadi salah satu lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Usulan ini disampaikan dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Penyampaian usulan tersebut dilakukan oleh Koordinator Aswaja Center NU Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, bersama Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, KH Balya Firjaun Barlaman, dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Aswaja Center NU di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Sabtu (29/8).

“PWNU Jatim sudah memiliki Pokja Aswaja Center NU sejak 2011 dan beberapa cabang juga sudah membentuknya. Hal ini sejalan dengan nilai Aswaja sebagai ruh dari NU,” ujar Ma’ruf Khozin. Meski demikian, ia menegaskan bahwa usulan ini masih dalam tahap pembahasan di forum Muktamar dan belum menjadi keputusan final.

Prinsip dan Karakter Aswaja

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Balya Firjaun Barlaman, menjelaskan bahwa prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) merupakan manifestasi dari tiga prinsip agama Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Di lingkungan NU, ketiga prinsip tersebut diterapkan dalam ajaran KH Hasyim Asy’ari yang meliputi aspek akidah, syariah, dan tasawuf.

Senada dengan hal itu, Wakil Ketua Aswaja Center PWNU Jawa Timur, KH Faris Khoirul Anam, menekankan bahwa Aswaja memiliki karakter tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran). Karakter ini dinilai mampu menjadi pendekatan problem solver dalam menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat.

Program Abad Kedua dan Literasi Digital

Selain usulan kelembagaan, Muktamar ke-35 NU juga menjadi wadah aspirasi bagi Majelis Alumni IPNU dan IPPNU. Mereka mendorong agar muktamar tidak hanya fokus pada isu kepemimpinan, tetapi juga merumuskan program NU Abad Kedua untuk periode 2026-2031, terutama dalam menghadapi tantangan era digital.

Di sisi lain, Jaringan Penulis dan Penggerak Literasi (JPPL) bersama Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU Jawa Timur turut berkontribusi dengan merumuskan buku sejarah berbasis dokumen sebagai bentuk kontekstualisasi sejarah NU.

Peluncuran Buku Induk dan Pameran Turots

Dalam kesempatan tersebut, Ma’ruf Khozin juga meluncurkan Buku Induk Aswaja NU yang dihadiri delegasi dari berbagai daerah seperti Makassar, Gorontalo, dan Jawa Barat. Buku ini memuat dalil-dalil amaliah NU seperti Yasin, tahlil, tawassul, dan haul, serta catatan sejarah mengenai peran tokoh-tokoh kunci NU seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Ridlwan Abdullah, dan KH Mas Alwi Abdul Aziz.

Kemeriahan Muktamar juga diwarnai dengan pameran oleh komunitas Nahdlatut Turots yang memamerkan sekitar 2.000 naskah peninggalan ulama dan karya keislaman klasik. Menariknya, sebagian besar koleksi turots tersebut kini telah melalui proses digitalisasi agar tetap relevan dan mudah diakses di masa depan. (Ant/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *