Penguatan K3 Nasional Jadi Kunci Tekan Risiko dan Kecelakaan Kerja
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyoroti tingginya angka kecelakaan kerja sekaligus masih besarnya ruang untuk meningkatkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia.(Istimewa)

PENGUATAN keselamatan dan kesehatan kerja (K3) nasional menjadi kunci untuk menekan risiko dan angka kecelakaan kerja di Indonesia. Upaya tersebut membutuhkan penguatan budaya keselamatan serta kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, regulator, asosiasi profesi, dan praktisi K3.

Upaya memperkuat ekosistem K3 tersebut turut menjadi perhatian dalam acara puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (K3 FKM UI) bertajuk OHS Leaders Forum–Homecoming and Networking Dinner yang digelar pada Jumat, (28/8) di Jakarta.

Mengusung tema Unggul dalam Keilmuan, Berdampak Nyata bagi Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia, kegiatan tersebut menjadi wadah konsolidasi lintas sektor atau pentaheliks untuk mendorong penguatan ekosistem K3 nasional. Kolaborasi melibatkan pemerintah, praktisi industri, akademisi, regulator, asosiasi profesi, serta ikatan alumni.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyoroti tingginya angka kecelakaan kerja sekaligus masih besarnya ruang untuk meningkatkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia.

Merujuk pada data BPJS Ketenagakerjaan 2025, tercatat lebih dari 319.224 klaim kecelakaan kerja di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 9.834 kasus berakhir dengan kematian, dan 4.133 kasus menyebabkan cacat fungsi maupun total. Terdapat pula 158 laporan penyakit akibat kerja, yang diprediksi menyerupai fenomena gunung es karena masih minimnya identifikasi dan pelaporan.

“Kondisi ini menunjukkan ruang peningkatan budaya keselamatan kerja di Indonesia masih sangat besar dan membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan,” kata Afriansyah dalam keterangannya. 

Selain tingginya angka kecelakaan kerja, implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) juga masih menghadapi tantangan. Dari sekitar 450.000 perusahaan yang menjadi sasaran implementasi, baru sekitar 18.000 perusahaan yang melaksanakan SMK3 melalui audit eksternal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang perbaikan sistem K3 di Indonesia masih sangat besar dan membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, dunia usaha, akademisi, maupun profesi K3.

Di sisi lain, perkembangan dunia kerja turut menghadirkan perubahan pada karakteristik risiko pekerjaan. Bahaya masa kini tidak lagi sebatas risiko konvensional seperti mesin atau kelistrikan. 

Para praktisi K3 kini harus menghadapi risiko ergonomi akibat digitalisasi, masalah kesehatan mental akibat tekanan sosial, keselamatan pada sistem otomatisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kompleksitas kerja jarak jauh (remote work), hingga ancaman perubahan iklim ekstrem.

Dalam proses tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan berharap FKM UI dapat menjadi salah satu rujukan utama dalam perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), khususnya dalam menjawab perubahan risiko dan kebutuhan keselamatan serta kesehatan kerja di masa mendatang.

Dekan FKM UI Indri Hapsari Susilowati yang turut mewakili Rektor UI, memberikan apresiasi terhadap perjalanan panjang Departemen K3 FKM UI selama lebih dari tiga dekade. Ia menegaskan keunggulan akademik tidak boleh berhenti di ruang kelas atau publikasi ilmiah, tetapi harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata untuk menjawab tantangan di lapangan.

“Ilmu K3 harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata untuk menjawab tantangan di lapangan. Tiga dekade lebih merupakan perjalanan matang membangun fondasi keilmuan dan mencetak talenta unggul di tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.

Menurutnya, penguatan fondasi keilmuan, sumber daya manusia, serta penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja menjadi bagian penting dalam membangun budaya K3 yang lebih kuat. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas penerapan K3 sekaligus membantu menekan risiko dan kecelakaan kerja di berbagai sektor.

Peluncuran Buku Dasar K3

Sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan keilmuan K3, Ketua Departemen K3 FKM UI Baiduri Widanarko, meresmikan peluncuran buku Dasar K3 (Basic OHS). Buku tersebut disusun untuk memberikan pemahaman mengenai prinsip dasar K3, identifikasi bahaya dan risiko, higiene industri, ergonomi, hingga faktor manusia dan organisasi.

Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai K3 sekaligus menjadi salah satu rujukan bagi mahasiswa, akademisi, dan profesional dalam menerapkan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kerja.

“Ini adalah ikhtiar nyata dari kami untuk memperluas cakrawala keilmuan K3 agar bisa diterapkan oleh mahasiswa, akademisi, hingga profesional,” ungkap Baiduri.

Ia juga menegaskan  buku tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi Departemen K3 FKM UI dalam memperluas akses masyarakat terhadap keilmuan K3.

“Buku ini merupakan salah satu ikhtiar kami untuk memberikan kontribusi penyebarluasan keilmuan K3 kepada masyarakat, yang dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa, akademisi, dan profesional,” kata Baiduri. (Ins/E-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *