
KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) mencatat lonjakan signifikan jumlah titik panas atau hotspot secara nasional pada 28 Agustus 2026. Meski demikian, tren penurunan mulai terlihat di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatra, seperti Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, terpantau sebanyak 18.065 hotspot di seluruh Indonesia pada 28 Agustus 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat sebanyak 14.788 titik.
Lonjakan di Kalimantan, Penurunan di Sumatra
Peningkatan jumlah titik panas secara signifikan terjadi di wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, jumlah hotspot melonjak dari 5.041 menjadi 7.703 titik. Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Barat yang meningkat dari 2.165 menjadi 3.384 titik serta Kalimantan Selatan yang bertambah dari 899 menjadi 1.354 titik.
Berbanding terbalik dengan Kalimantan, beberapa provinsi di Sumatra justru mencatat penurunan. Sumatra Selatan mencatat penurunan dari 1.281 menjadi 1.036 hotspot. Di Riau, jumlah titik panas tercatat sebanyak 265 titik pada 28 Agustus, menurun jauh dari puncaknya pada 23-24 Agustus yang sempat mencapai 491 titik.
Tren positif juga terjadi di Jambi. Jumlah hotspot yang sempat menyentuh angka 437 pada 23 Agustus kini turun drastis menjadi 86 titik pada 28 Agustus.
Kemenhut Tetap Siaga Penuh
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menegaskan bahwa penurunan di sebagian wilayah tidak boleh memicu kelengahan. “Kondisi karhutla tetap dinamis sehingga penurunan hotspot di sebagian wilayah tidak boleh menurunkan kewaspadaan,” ujar Ristianto dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8).
Kemenhut saat ini memfokuskan kekuatan pada enam provinsi prioritas, yaitu:
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Selatan
- Sumatra Selatan
- Jambi
- Riau
Operasi pengendalian diperkuat melalui patroli darat, groundcheck, pemadaman, hingga penyekatan lahan. Di wilayah gambut, petugas melakukan pendinginan berulang guna memastikan bara api di bawah permukaan benar-benar padam. Selain itu, dukungan udara berupa water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus disiagakan sesuai kondisi meteorologis.
Dampak Asap dan Jarak Pandang
Kondisi asap akibat karhutla mulai memengaruhi aktivitas di sejumlah ibu kota provinsi. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Sabtu (29/8) pagi menunjukkan jarak pandang di Banjarmasin hanya mencapai 0,5 kilometer. Sementara di Pontianak dan Jambi, jarak pandang terbatas pada 0,8 kilometer.
Di wilayah lain, Palangka Raya mencatat jarak pandang 3 kilometer dan Pekanbaru 2,5 kilometer. Palembang terpantau lebih baik dengan jarak pandang 6 kilometer dalam kondisi cerah berawan.
Ristianto mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dari satelit dan memerlukan verifikasi lapangan. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta terus memantau informasi resmi mengenai kualitas udara.
“Perkembangan di lapangan merupakan hasil kerja kolektif antara Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dunia usaha, dan masyarakat. Namun, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan karena situasi masih sangat dinamis,” pungkasnya. (I-2)
