
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan menyusul meningkatnya kejadian kebakaran di sejumlah wilayah strategis. Fokus utama penanganan diarahkan pada Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin yang mencatatkan peningkatan titik panas secara signifikan.
Untuk memperkuat armada di lapangan, sebanyak 299 personel Manggala Agni dikerahkan. Jumlah ini terdiri atas 254 personel organik Sumatra Selatan dan tambahan 45 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) yang didatangkan dari Daops Sarolangun, Muara Tebo, dan Kota Jambi guna menjaga rotasi dan stamina pasukan.
Tren Kebakaran Meningkat Tajam
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Provinsi Sumatra Selatan hingga 21 Agustus 2026, tercatat telah terjadi 1.605 kejadian karhutla dengan indikasi luas terdampak mencapai 1.926,2 hektare. Tren kejadian menunjukkan lonjakan tajam dalam dua bulan terakhir, yakni dari 456 kejadian pada Juli menjadi 897 kejadian pada Agustus. Pada 22 Agustus 2026 saja, terdeteksi 600 hotspot di Sumatra Selatan, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kabupaten OKI.
Penanganan intensif kini difokuskan pada lokasi sumber asap yang berpotensi memengaruhi kualitas udara Kota Palembang, meliputi:
- Kabupaten OKI: Pangkalan Lampam, Tanjung Lubuk, dan Tulung Selapan.
- Kabupaten Ogan Ilir: Indralaya dan Indralaya Utara.
- Kabupaten Muara Enim: Sungai Rotan dan Gelumbang.
Kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palembang dilaporkan bergerak dinamis seiring masuknya kabut asap tipis pada jam-jam tertentu.
Operasi Terpadu Darat dan Udara
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa operasi darat tetap menjadi kekuatan utama yang didukung oleh patroli udara dan water bombing untuk menjangkau lokasi sulit. Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali dilakukan pada 22 Agustus 2026 sebanyak satu sortie ke arah OKI, Ogan Ilir, dan Banyuasin.
“Di lahan gambut, padam di permukaan belum berarti selesai. Pendinginan terus dilakukan sampai bara di bawah permukaan benar-benar aman agar tidak kembali menghasilkan asap,” ujar Ferdian.
Gakkum Selidiki Penyebab Kebakaran
Di sisi lain, pengawasan dan penegakan hukum berjalan beriringan dengan upaya pemadaman. Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatra tengah menyelidiki kebakaran seluas 25 hektare di kawasan Hutan Produksi pada salah satu areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Musi Banyuasin.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa pemegang izin wajib bertanggung jawab atas perlindungan areal kerjanya. “Setiap kejadian yang memiliki indikasi pelanggaran akan didalami untuk mengetahui penyebab dan pihak yang bertanggung jawab. Jika ditemukan kesengajaan, kelalaian, atau ketidakpatuhan, kami tindak sesuai ketentuan,” tegasnya saat melakukan supervisi di Sumatra Selatan.
Dwi juga memastikan dukungan logistik, layanan kesehatan, serta sarana prasarana bagi personel Manggala Agni dan tim gabungan dari TNI, Polri, BNPB, BPBD, serta masyarakat peduli api tetap terpenuhi hingga kondisi benar-benar aman.
