
ANGGAPAN bahwa orang berpaha besar memiliki peluang hidup lebih panjang sering kali disalahpahami sebagai anjuran untuk memperbesar ukuran paha tanpa batas. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yunita Aryani, MSi, MH, menegaskan bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya benar dan perlu dipahami secara proporsional.
Melalui penjelasan resmi pada 18 Agustus 2026, dr Yunita menyebutkan bahwa penelitian memang menemukan adanya kaitan antara lingkar paha yang sangat kecil dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini. Namun, hal ini bukan berarti semakin besar paha seseorang, maka semakin panjang pula usianya.
“Paha yang terlalu kecil dapat menjadi salah satu penanda rendahnya massa otot, status gizi yang kurang baik, atau kondisi kesehatan tertentu,” ujar Yunita. Ia menekankan bahwa yang lebih penting diperhatikan adalah komposisi pembentuk paha dan bagaimana fungsi ototnya, bukan sekadar ukuran diameter luar.
Dasar Ilmiah dan Ambang Batas 60 Cm
Klaim mengenai hubungan lingkar paha dan kesehatan ini berakar dari sejumlah studi, salah satunya diterbitkan di BMJ pada 2009 oleh Berit L. Heitmann dan Peder Frederiksen. Riset terhadap ribuan warga di Denmark tersebut menemukan adanya “efek ambang” pada angka 60 cm.
Risiko penyakit jantung koroner dan kematian meningkat ketika lingkar paha berada di bawah 60 cm. Namun, di atas angka tersebut, peneliti tidak menemukan manfaat tambahan yang konsisten. Artinya, memiliki paha yang jauh lebih besar dari 60 cm tidak otomatis membuat seseorang lebih sehat.
Angka 60 cm ini pun tidak bisa dijadikan patokan universal, terutama bagi masyarakat Indonesia. Peneliti menyebut ambang batas tersebut bervariasi antara 56-68 cm tergantung jenis kelamin dan populasi yang diteliti. Angka 60 cm dipilih dalam studi tersebut hanya untuk kepentingan praktis analisis.
Massa Otot vs Lemak Visceral
Mengapa ukuran paha berkaitan dengan umur panjang? Penjelasan utamanya terletak pada massa otot rangka. Otot paha berperan vital dalam metabolisme glukosa, sensitivitas insulin, serta menjadi cadangan protein saat tubuh mengalami stres metabolik atau sakit.
Selain itu, lokasi penyimpanan lemak juga berpengaruh. Lemak subkutan di paha dan bokong secara metabolik lebih baik dibandingkan lemak visceral (lemak perut). Studi meta-analisis tahun 2020 terhadap 2,52 juta orang menunjukkan bahwa setiap tambahan 5 cm lingkar paha berhubungan dengan risiko kematian 18 persen lebih rendah, namun ini adalah studi observasional populasi, bukan bukti sebab-akibat langsung.
Kesimpulan:
Lingkar paha yang sangat kecil merupakan indikator risiko kesehatan, tetapi paha besar bukan jaminan panjang umur. Kesehatan tetap ditentukan oleh kombinasi aktivitas fisik, pola makan, kondisi metabolik, dan lingkar pinggang yang ideal.
Pada akhirnya, lingkar paha tidak bisa membedakan apakah ukuran tersebut berasal dari otot, lemak, atau cairan. Oleh karena itu, dr Yunita menyarankan masyarakat untuk lebih fokus pada kekuatan dan fungsi otot melalui gaya hidup sehat daripada sekadar mengejar ukuran fisik tertentu.
