Kepala BMKG: Gempa Susulan Flores Diperkirakan Masih akan Terjadi hingga 3--4 Minggu ke Depan
Proses evakuasi korban gempa NTT.(Dok. Metro Tv)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan aktivitas gempa susulan pascagempa bermagnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat minggu untuk meluruh sepenuhnya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa durasi peluruhan yang cukup lama ini disebabkan oleh besarnya kekuatan gempa utama. “Karena ini gempanya cukup besar, 7,7 magnitudo, jadi peluruhannya memerlukan waktu kurang lebih tiga sampai empat minggu ke depan,” ujar Faisal di Jakarta, Rabu (19/8).

Ribuan Gempa Susulan Tercatat

Hingga Rabu pukul 17.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 3.055 gempa susulan telah terjadi sejak gempa utama pada Sabtu (15/8). Dari ribuan aktivitas tektonik tersebut, magnitudo terbesar tercatat 6,2 dan terkecil 1,1, dengan 88 gempa di antaranya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Faisal menekankan bahwa saat ini aktivitas kegempaan telah memasuki proses peluruhan, di mana magnitudo gempa susulan secara umum akan semakin mengecil. Berdasarkan evaluasi terbaru, BMKG tidak memperkirakan adanya gempa susulan dalam waktu dekat yang berpotensi memicu tsunami.

Masyarakat Diminta Tetap Tenang

Menanggapi kekhawatiran warga akan potensi gempa besar susulan, Faisal menjelaskan bahwa Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust) memerlukan waktu puluhan tahun untuk kembali mengakumulasi energi sebesar gempa utama yang baru saja terjadi.

“Masyarakat tidak perlu khawatir tentang itu, mohon tetap tenang bahwa kita terus memantau kondisinya,” ungkapnya.

Terkait kesiapsiagaan tsunami, BMKG menegaskan bahwa sistem peringatan dini Indonesia mampu memberikan informasi dalam waktu kurang dari tiga menit, sesuai protokol internasional. BMKG juga menyiagakan empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Pulau Flores (Labuan Bajo, Ruteng, Maumere, Larantuka) serta dua pos di Ende dan Bajawa untuk memantau situasi secara real-time.

Sistem Cadangan dan Mitigasi

Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengoperasikan dua Multi-Hazard Early Warning System di Jakarta dan Denpasar. Fasilitas di Denpasar disiapkan sebagai sistem cadangan (back-up) jika operasional di Jakarta terganggu, guna memastikan layanan peringatan dini tetap berjalan tanpa hambatan.

BMKG juga terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, dan Forkopimda di wilayah terdampak untuk memperkuat prosedur operasi standar (SOP) evakuasi dan penentuan jalur aman bagi masyarakat pesisir.

Sebelumnya, gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, NTT, pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan sumber gempa berasosiasi dengan sesar naik yang memanjang di sepanjang laut utara Kepulauan Nusa Tenggara. (Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *