
PERINGATAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia menyisakan sorotan menarik pada busana kenegaraan Presiden Prabowo Subianto serta jajaran pejabat yang hadir. Kalung bunga melati yang melingkar di leher Presiden, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, hingga Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjadi elemen visual yang sarat akan makna mendalam.
Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jakarta menegaskan bahwa kehadiran ronce melati tersebut bukan sekadar pemanis busana formal.
“Bunga melati putih (Jasminum sambac) adalah bunga nasional Indonesia atau puspa bangsa. Penggunaannya sebagai kalung melati melambangkan kesucian hati, ketulusan, serta kebersihan niat dalam memimpin bangsa dan negara,” kata Ketua APPMI Jakarta Dana Duriyatna dikutip dari Antara, Senin (17/8).
Penggunaan bunga nasional ini juga merefleksikan bentuk penghormatan tertinggi atas jasa para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, perancang busana Ali Charisma menilai melati putih memiliki keterikatan kuat dengan berbagai tradisi seremoni di Tanah Air.
“Secara umum, melati sering diasosiasikan dengan kesucian, ketulusan, penghormatan, dan sesuatu yang sakral, selain tentu memiliki karakter visual yang sangat khas Indonesia,” kata Ali.
Menurut Ali, kehadiran ronce melati mampu menghadirkan sentuhan tradisi yang kental tanpa merusak struktur estetika busana formal modern.
“Penggunaan rangkaian melati dalam acara kenegaraan menurut saya memberikan sentuhan budaya yang cukup kuat tanpa harus mengubah keseluruhan busana menjadi pakaian adat,” ujar Ali. Ia menambahkan bahwa aksesori lokal ini membuktikan elemen budaya tradisional mampu menyatu harmonis dengan gaya penataan busana kenegaraan masa kini.
Dari sudut pandang pengamat mode, Lisa Fitria menggarisbawahi kekuatan pesan visual yang terpancar dari pemimpin negara melalui kalung tersebut.
“Jadi, melati bukan sekadar aksesori untuk memperindah busana. Ia menjadi semacam visual statement tentang nilai yang idealnya melekat pada seorang pemimpin yakni niat yang bersih dan pengabdian yang tulus,” tutur Lisa. Bagi seorang kepala negara, perhiasan alami tersebut menjadi simbol kesucian niat dan ketulusan dalam mengemban amanah serta pengabdian bagi bangsa dan negara.
(Ant/P-4)
