Data Dinas Kesehatan Kota Samarinda mencatat jumlah penderita ISPA pada Juli 2026 mencapai 8.610 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 10.681 orang pada Agustus dan kembali melonjak menjadi 12.819 orang pada September.
Sementara itu, hingga 8 Oktober 2026, jumlah penderita ISPA yang tercatat mencapai 3.092 orang. Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr. Ismid Kusasih, mengatakan peningkatan kasus ISPA tersebut masih dalam kondisi terkendali. “Terjadi peningkatan, tapi masih tetap terkendali,” kata Ismid.
Meski demikian, peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian di tengah paparan asap karhutla yang menyelimuti Samarinda sejak September. Asap dan partikel halus yang terkandung di dalamnya berpotensi mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.
Paparan polusi udara dapat memicu berbagai keluhan, seperti batuk, pilek, tenggorokan terasa perih, hingga sesak napas. Namun, untuk memastikan sejauh mana asap karhutla berkontribusi terhadap peningkatan kasus ISPA di Samarinda, diperlukan data kualitas udara dan kajian kesehatan yang lebih spesifik.
Secara bulanan, jumlah penderita ISPA meningkat sebanyak 2.071 orang dari Juli ke Agustus. Pada September, jumlahnya kembali bertambah 2.138 orang dibandingkan bulan sebelumnya. Dengan demikian, jumlah penderita pada September meningkat sekitar 48,9% dibandingkan Juli 2026.
Adapun data hingga 8 Oktober belum mencakup satu bulan penuh sehingga belum dapat dibandingkan secara langsung dengan angka pada bulan-bulan sebelumnya.
Di tengah kondisi udara yang diselimuti asap, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, menjaga agar asap tidak masuk ke dalam ruangan, serta memantau informasi kualitas udara menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan polutan.
Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan, terutama jika batuk berkepanjangan, sesak napas, atau gejala lainnya semakin berat.
Pemantauan perkembangan kasus ISPA dan kualitas udara perlu terus dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat sekaligus mengantisipasi risiko paparan asap karhutla di Samarinda dan sekitarnya.
