75 Persen Sampah Indonesia Berakhir di TPA, UGM Dorong Solusi Waste-to-Energy
TPA Warloka.(Dok. Antara)

SEBANYAK 75% sampah di Indonesia dilaporkan masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan kondisi minim pengolahan dan pemanfaatan. Situasi ini menyebabkan potensi besar kandungan energi serta material dari sampah belum tergarap secara optimal.

Dosen Departemen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Rochim Bakti Cahyono, mengungkapkan bahwa timbulan sampah nasional diproyeksikan mencapai sekitar 52,84 juta ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, sampah rumah tangga menjadi kontributor terbesar dengan porsi 58,58%, di mana sampah organik atau sisa makanan mendominasi sekitar 39%.

“75 persen dari sampah tersebut berakhir di TPA yang minim pengolahan dan minim pemanfaatan. Akibatnya, potensi kandungan energi dan material yang ada di dalam limbah dan biomassa tersebut belum dapat termanfaatkan secara optimal,” ujar Rochim dalam keterangannya, Rabu (12/8).

Rochim menekankan bahwa urgensi pengolahan sampah semakin meningkat seiring dengan melonjaknya kebutuhan energi nasional akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Saat ini, bauran energi nasional masih sangat bergantung pada energi fosil.

Pemanfaatan biomassa dan limbah dinilai menjadi solusi strategis karena mampu memberikan manfaat ganda: menghasilkan energi, mengurangi timbunan sampah di TPA, meningkatkan efisiensi sumber daya, serta menekan emisi gas rumah kaca.

Konsep Resource Transformation Engineering

Sebagai langkah konkret, Rochim bersama Departemen Teknik Kimia UGM mengembangkan konsep Resource Transformation Engineering. Pendekatan ini memposisikan limbah dan biomassa sebagai sumber daya yang dapat ditransformasi menjadi energi, material, maupun produk bernilai tambah lainnya.

“Konsep ini kami usulkan untuk memperkuat perubahan paradigma dan menjamin pemanfaatan limbah dan biomassa atau yang dikenal sebagai waste-to-energy,” jelasnya.

Implementasi konsep ini bertumpu pada lima pilar utama, yaitu sumber daya, teknologi transformasi, produk bernilai tambah, sistem industri berkelanjutan, dan dampak nyata bagi masyarakat.

Tantangan Adaptasi Teknologi

Meski memiliki potensi besar, Rochim mengingatkan bahwa teknologi waste-to-energy tidak bisa diadopsi mentah-mentah dari negara lain. Karakteristik sampah yang berbeda di setiap daerah di Indonesia memerlukan penyesuaian teknologi yang spesifik.

“Teknologi yang berhasil di luar negeri belum tentu cocok diimplementasikan di Indonesia. Sebagai contoh, pengembangan biogas menghadapi tantangan karena karakteristik limbah organik kita yang sangat beragam,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa dominasi sampah di TPA tidak hanya menyita lahan, tetapi juga memperburuk emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, inovasi teknologi proses menjadi kunci untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Ke depan, Rochim mendorong agar penelitian waste-to-energy difokuskan pada pengembangan renewable carbon, sistem biorefinery terintegrasi, serta pemanfaatan teknologi digital agar tetap relevan dengan tantangan masa depan. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *