
VIETNAM mengumumkan proyek ambisius pembangunan kapal perang pemburu kapal selam baru sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan militer di tengah meningkatnya ketegangan dengan Tiongkok. Kapal fregat ini akan menjadi kapal perang buatan domestik terbesar dan tercanggih yang pernah dimiliki Hanoi hingga saat ini.
Kapal perang baru tersebut akan dilengkapi dengan teknologi militer mutakhir, termasuk rudal pertahanan udara, rudal antikapal canggih, serta radar electronically scanned array (AESA). Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis Vietnam untuk menandingi dominasi Tiongkok di wilayah sengketa Laut Tiongkok Selatan.
Produksi Domestik dan Spesifikasi
Mayoritas senjata dan teknologi yang tersemat pada kapal ini akan diproduksi di dalam negeri oleh Viettel Military Industry and Telecoms Group, perusahaan milik negara, serta pabrik-pabrik di bawah kendali Kementerian Pertahanan Vietnam. Pembangunan kapal akan dilakukan di galangan kapal Song Thu, kota pesisir Da Nang, dengan target penyelesaian dalam waktu tiga tahun.
Dalam pengumuman resminya, model kapal ditampilkan dengan fitur sensor radar, dek helikopter, dan meriam dek. Proyek ini menandai kemandirian industri pertahanan Vietnam yang selama ini sangat bergantung pada pasokan senjata dari Rusia.
Konflik di Laut Tiongkok Selatan
Langkah penguatan militer ini terjadi di tengah persaingan klaim wilayah di Kepulauan Paracel dan Spratly. Selain Vietnam dan Tiongkok, wilayah ini juga diklaim oleh Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei. Vietnam menyebut wilayah perairan tersebut sebagai Laut Timur.
Meskipun sempat terjadi penurunan ketegangan, seperti saat Tiongkok membantu penyelamatan kapal kargo Vietnam yang karam pada akhir Juli lalu, Hanoi tetap dalam kewaspadaan tinggi. Nelayan Vietnam kerap melaporkan insiden penabrakan kapal oleh armada Tiongkok, serupa dengan ketegangan yang dialami Filipina.
Catatan Strategis: Vietnam membangun lebih dari 2.200 hektare lahan buatan di Laut Tiongkok Selatan hingga Maret lalu, menurut data Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Salah satu pos terdepan terbesarnya berada di Barque Canada Reef yang kini memiliki landasan pacu sepanjang 13.000 kaki.
Diversifikasi Teknologi Militer
Selain membangun kapal perang, Vietnam aktif mendiversifikasi sumber teknologi militernya. Pada Mei lalu, Hanoi menandatangani kesepakatan senilai 60 miliar rupee (sekitar Rp11,4 triliun) dengan India untuk pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos. Kesepakatan serupa juga dilaporkan tengah difinalisasi dengan Indonesia.
Pada Desember mendatang, Vietnam dijadwalkan menjadi tuan rumah Vietnam International Defence Expo untuk ketiga kali. Ajang ini menjadi platform bagi Hanoi untuk memamerkan inovasi lokal, seperti rudal antikapal Truong Son yang dikembangkan oleh Viettel, sekaligus mencari mitra teknologi baru di luar Rusia. (The Telegraph/I-2)
